TANAH LELUHUR
\
NAMA :ANAS
AL ATSARY
NO :2
KELAS ;8A1
"Kyai" lanjut Sunan Muria yang juga bernama Raden
Umar Syahid kemudian,"masih ingatkah dulu sebelum Kyai pergi menyepi di
tempat ini?"
Kyai Gringsing mengangguk perlahan. Kembali ingatanya
melayang beberapa tahun yang lalu.
Ketika pada suatu malam dalam kondisi tubuhnya yang lemah
karena beberapa lama sakit,selepas melaksanakan munajat sepertiga malamnya Kyai
Gringsing mendengar suara bisikan yang
sangat halus namun sangat jelas.
"Assalamu'alaikum Kyai." Sebuah suara seolah-olah
bergulung-gulung di seputar telinganya.
Sebagai seorangberilmu tinggi meskipun dalam wadak lemahnya
Kyai Gringsing tetaplah seorang yang pilih tanding.
"Alaikum salam ki sanak" jawab Kyai Gringsing
dengan Aji Pamelingnya. Dikerahkannya aji panggraita nya kuat-kuat untuk
mengetahui darimana arah suara itu.
Tapi Kyai Gringsing tidakjuga mampu menangkap akan kehhadiran
orang di sekitar Padepokannya.
"Mohon maaf Kyai,tidak perlu Kyai mencari keberadaanku saat ini."Kembali
Kyai Gringsing mendengar suara itu,bahkan semakin dekat di telinganya.
Seolah tahu apa yang dilakukan Kyai Gringsing,suara itu
kembali terdengar lembut namun sangat jelas di telinga Kyai Gringsing.
"Kyai,aku ingin meminta tolong kepada Kyai. Karena tidak
ada yang aku anggap mampu mengemban amanah ini kecuali Kyai Gringsing."
Mengembun peluh di kening Kyai Gringsing di tengah dingin
sepertiga malam yang buta itu.
"Ki Sanak,siapa ki sanak ini sebenarnya."Kembali
Kyai Gringsing mengetrapka Aji Pamelingnya. Dengan tetap dalam duduk bersilanya
dikumpulkan semua ingatan tentamg tokoh-tokoh berilmu sangat tinggi yang
mungkin di kenali lewat suara nya.
Tersengar suara itu tertawa perlahan. Suara berat mengandung
wibawa. "Kyai,sesungguhnya tidaklah penting siapakah adanya diriku.
Kyai,aku ingin meminta Kyai menemuiku di Pertapan Suralaya
nanti tepat pada saat bulan penuh.
Kyai tidak perlu khawatir dengan lemahnya badan wadak Kyai.
Aku akan memberikan beberapa butir ramuan yang dengan ijin Yang Maha Agung akan
memulihkan segala rasa lemah yang Kyai rasakan."
Kyai Gringsing menghela napas dalam-dalam. Kemudia berkata
tetap dengan Aji Pameling yang sengaja di trapkannya menyebar. Sehingga apabila
pada saat itu ada seorang yang mampu menguasai Aji Pameling di sekitar
padepokan orang bercambuk akan juga dapat menangkap Aji itu.
"Baiklah Ki Sanak. Aku yang berilmu sangat rendah ini
memang tidak akan mampu mencari keberadaan Ki Sanak saat ini. Mudah-mudahan
Yang maha Kuasa mengijinkan kita utk bertemu nanti di saat bulan purnama telah
penuh."
Kembali terdengar suara tawa perlahan. "Baiklah
Kyai,sampai jumpa nanti di bulan purnama penuh di Suralaya. Di depan pintu
pendapa aku telah meletakkan ramuan yang harus segera Kyai minum." Setelah
terasa hening beberapa saat,kembali suara itu terdengar."Aku mohon diri
Kyai. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam warahmatullah." Desis perlahan
Kyai Gringsing tidak lagi dengan Aji Pameling.
Perlahan Kyai Gringsing beranjak dari pembaringannya.
Berjalan dia menuju pintu pendapa Padepokannya. Dibukanya pintu itu,dan
benarlah adanya tepat di depan pintu ditemuinya sesuatu berbungkus kain wulung.
Terkesiap Kyai Gringsing melihat pembungkus benda itu.
"Kanjeng Sunan Kalijaga."
Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 05 )
Perlahan Kyai Gringsing
memungut benda itu dengan kedua tangannya dengan tanpa bermaksud mengagungkan
keberadaan kain wulung pembungkusnya,karena bagi Kyai Gringsing tidak ada yang
pantas di agungkan kecuali Sang Pemilik Jiwanya. Tapi semata-mata rasa hormat
yang dalam kepada pemilik kain wulung itulah,maka Kyai Gringsing membawa ramuan
berbungkus kain wulung itu dengan sangat hati-hati.
"Siapapun orang yang meletakkan kain wulung ini di depan
pintu pendapa padepokanku,orang itu benar-benar berilmu sangat
tinggi."Berkata Kyai Gringssing tanpa bermaksd menyombongkan ilmu nya.
"Tidak ada sekuku irengnya segala kemampuan yang aku
miliki. Tapi bukankah Kanjeng Sunan Kalijaga sudah mangkat beberapa tahun yang
lalu?"Bertanya Kyai Gringsing seolah kepada dirinya.
Kyai Gringsing larut dalam pertanyaan yang masih belum juga
dia dapatkan jawabannya.
"Biarlah nanti di saat bulan purnama penuh semua teka
teki ini terjawab. Aku akan segera meminum ramuan ini seperti yang telah
dipesankan orang itu kepadaku"
Dibukanya ikatan kain
wulung itu. Dilihatnya di dalamnya tiga butir ramuan dengan tiga warna berbeda
pula.
"Luar biasa."Ucapnya setelah tahu ramuan itu.
Sebagai seorang yang ahli dalam ilmu pengobatan,Kyai
Gringsing tahu betul jenis dan kasiat ramuan itu. Kyai Gringsing juga tahu
pasti betapa saat ini sudah tidak mungkin lagi dia dapat membuat ramuan itu
dikarenakan bahan pembuat ramuan itu sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada,maka
bahan itu sudah sangat langka.
"Agaknya aku harus membangunkan Ki Widura untuk
membantuku meminum ramuan ini "membatin Kyai Gringsing.
Dengan tubuh yang masih sangat lemah Kyai Gringsing berjalan
pelan menuju bilik Ki Widura yang berada tidak jauh dari bilik yang di tempati
para cantrik penghuni Padepokan orang bercambuk.
Sementara itu di dalam biliknya, Ki Widura yang memiliki
pendengaran terlatih meskipun belum sampai pada tataran seperti Agung Sedayu
apalagi Kyai Gringsing,sudah dapat pula merasakan langkah orang mendekati
biliknya.
Bergegas Ki widura turun dari pembaringnnya.
"Kyai Gringsing?" Tahulah KiWidura siapa yang di
pagi buta itu mendekati biliknya dari langkah yang dia dengar.
Tergopoh dibuka pintu biliknya,terlihat Kyai Gringsing
melangkah mendekati bilik.
"Assalamu'alaikum Ki Widura"sapa Kyai Gringsing
kemudian.
"Alaikum salam Kyai." Disambutnya Kyai Gringsing.
Diraihnya tangan lemah Kyai Gringsing dan kemudian dibimbingnya Kyai Gringsing
duduk di amben kecil di depan bilik Ki Widura."Silahkan Kyai."Berkata
Ki Widura kemudian.
Dibiarkanya Kyai Gringsing mengatur nafas nya sebentar. Tampak
sekali wajah letih dari Kyai Gringsing.
"Ki Widura,maaf apabila aku mengganggu istirahat Ki
Widura di pagi buta ini"berkata Kyai Gringsing setelah nafasnya tidak lagi
memburu saling berebut dahulu keluar dari jalan pernafasanya.
"Tidak mengapa Kyai. Sebenarnya lah biasanya aku pun
juga sudah terbangun di pagi seperti ini."Berkata Ki Widura kemudian.
"Kyai,ada apa kiranya sepagi ini Kyai sudah menemuiku di
sini. Keadaan Kyai masih sangat lemah,seharusnya tidak lah banyak bergerak
terlebih dahulu."Berucap Ki Widura setelah juga duduk di amben itu pula.
Kyai Gringsing menghela nafas perlahan,kemudian berkata.
"Justru karena keadaankulah ini Ki Widura,aku harus menemui Ki Widura
secepatnya."
Kemudian Kyai Gringsing menceritakan kejadian yang baru saja
dialaminya.
Berdebar Ki Widura mendengar cerita Kyai Gringsing.
"Subhanallah,"berkata Ki Widura kemudian dengan
takjub.
"Siapakah orang itu sebenarnya. Sampai-sampai Kyai
Gringsing yang berilmu sangat tinggi pun tidak mampu mengetahui
kehadiranya"membatin Ki Widura.
"Kalau demikian,marilah Kyai segera meminum ramuan itu.
Biar aku siapkan semuanya."Setelah berkata demikian Ki Widura segera
beranjak pergi untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan Kyai Gringsing.
Sejurus kemudian setelah siap,berkataKyai Gringsing kepada Ki
Widura."Ki Widura,tolong antar ke bilik ku. Agaknya aku memerlukan waktu
beberapa saat untuk benar-benar bisa menyerap kasiat ramuan ini."
"Mari Kyai"
Tak seberapa lama di dalam bilik, Kyai Gringsing sdh bersiap.
Di raihnya butir ramuan yang berwarna merah kehitam hitaman.
"Ki Widura,apapun yang nanti Ki Widura saksikan atas
ku,aku mohon Ki Widura tidak perlu kawatir." Pesan Kyai Gringsing.
"Baik Kyai"singkat Ki Widura menjawab meskipun
bagaimanapun kecemasan tetaplah membayang di wajahnya.
Sejenak bilik itu dilanda sunyi yang sangt. Tiba-tiba tak
beberapa lama setelah Kyai Gringsing meminum ramuan itu,tubuh tua Kyai
Gringsing menggigil. Ki Widura yang berdiri di samping pembaringan Kyai
Gringsing semakin cemas melihat itu.
Tubuh Kyai Gringsing semakin menggigil dan bergetar hebat.
Nafasnya memburu.
Dan,betapa terkesiapnya Ki Widura kemudian melihat dari tubuh
Kyai Gringsing keluar cahaya kemerah-merahan menyelimuti seluruh tubuh Kyai
Gringsing.
"Allahu Akbar" tertahan Ki Widuran terpekik.
Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 06 )
Cahaya kemerahan
itu untuk beberapa saat membuat bilik itu seperti membara. Ki Widura
termangu-mangu takjub dengan apa yang dilihatnya. Tak henti-hentinya bibirnya
mengangungkan Penguasanya.
Sementara itu tubuh Kyai Gringsing perlahan lahan terlihat
tidak lagi menggigil. Begitupun cahaya kemerahan yang menyelimuti tubuh tua itu
perlahan meredup. Pernafasan Kyai Gringsing pun perlahan-lahan mulai nampak
teratur kembali.
Untuk beberapa saat bilik itu sunyi,hanya terdengar suara
nafas Kyai Grinsing yang mengalir ringan dari jalan nafasnya.
Ki Widura pun menjadi berkurang rasa cemasnya melihat keadaan
Kyai Gringsing yang mulai nampak segar kembali.
Dikeremangan temaram lampu teplok,dilihatnya Kyai Gringsing
perlahan membuka matanya.
"Alhamdulillah,"berdesis perlahan bibir Kyai
Gringsing.
Perlahan Kyai Gringsing bersujud di atas pembaringan sebagai
rasa sukur nya yang tiada tara.
Tidak lama setelah hanyut dalam sujud sukurnya berkata Kyai
Gringsing kemudian. " Ki Widura, sungguh betapa Yang Maha Agung telah
memberiku kenikmatan yang tiada terkira."
Sambil mengusap peluh yang mengembun di dahi nya, Kyai
Gringsing melanjutkan.
"Rasanya tubuhku menjadi jauh lebih baik saat ini"
"Sukurlah Kyai." Mata Ki Widura berkaca-kaca tidak
kuasa menyembunyikan rasa haru melihat apa yang terjadi pada Kyai Gringsing
yang juga adalah guru nya itu.
"Ki Widura,aku minta tolong Ki Widura untuk merahasiakan
semua yang terjadi ini. Kepada siapapun,termasuk juga kepada Agung
Sedayu."
Ki Widura pun mengganguk mengerti.
"Baik Kyai"
"Ki Widura,selanjutnya aku akan pergi ke sanggar. Jangan
ada satupun yang boleh masuk ke sanggar sampai aku keluar.
Nanti selepas waktu Dhuha,aku minta Ki Widura untuk
membantuku di dalam sanggar." Setelah berhenti sebentar,berkata Kyai
Gringsing." Baiklah Ki,aku segera akan ke Sanggar."
"Silahkan Kyai."
Begitulah,suasana padepokan orang bercambuk pagi itu tetap
seperti biasanya. Para mentrik dan cantrik tetap pada pekerjaannya
masing-masing tanpa tahu apa yang telah terjadi dengan Kyai Gringsing.
Mereka hanya tahu bahwa Guru mereka Kyai Gringsing sedang
berada di Sanggar dan tidak diperbolehkan siapapun untuk masuk ke sana kecuali
Ki Widura sendiri.
Maka ketika tiba waktu Dhuha seperti pesan Kyai Gringsing,Ki
Widurapun telah berada pula di dalam sanggar.
Setelah semua di siapkan, dengan sikap duduk bersila Kyai
Gringsing mengambil ramuan berwarna hijau kekuningan. Tidak seperti waktu
meminum ramuan yang berwarna merah tadi di waktu pagi buta, maka yang terlihat
dari tubuh Kyai Gringsing seolah tidak ada perubahan sama sekali.
Hanya beberapa
saat,Kyai Gringsing telah kembali membuka matanya.
Ki Widura pun tidak mengungkapkan keheranannya.
Namun seolah tahu apa yang terpikir oleh Ki widura maka Kyai
Gringsing berkata,"ketahuilah Ki. Ramuan ini ada lah ramuan utk mendukung
ramuan yang terakhir nanti tengah malam yang harus aku minum."
Mengangguk mengerti Ki widura dengan penjelasan itu.
"Apa yang akan terjadi setelah Kyai meminum ramuan yang
terakhir itu?"Bertanya Ki Widura.
Kyai Gringsing menghela nafas perlahan."Ramuan ini
adalah ramuan racikan Kanjeng Sunan Kalijaga yang tiada duanya.
Menurut cerita yang aku dengar dari Guruku ramuan langka ini
akan membuat tenaga cadangan orang yang meminumnya menjadi berlipat."
"Subhanallah" takjub Ki Widura mendengar penjelasan
itu.
"Baiklah Ki,"berkata Kyai Gringsing
kemudian,"Nanti menjelang tengah malam, Ki Widura aku minta kembali ke
sanggar ini"
"Sungguh suatu kehormatan bagiku Kyai"
Begitulah,waktu berjalan hari itu serasa menjadi sangat lama
bagi Ki Widura. Berdebar dadanya menanti apa yang akan terjadi dengan Gurunya.
Dia tidak lagi dpt membayangkan,akan seperti apa tinggi dan
dalamnya ilmu kanuragan dari Kyai Gringsing.
"Mungkin hanya pemilik ramuan itu saja yang akan mampu
mengimbangi ilmu Kyai Gringsing" desis Ki Widura.
Akhirnya menjelang tengah malam itu tiba. Ki Widura bergegas
menemui Kyai Gringsing di sanggar. Tidak lupa telah disiapkan segala sesuatu
yang nanti akan dibutuhkan Kyai Gringsing seperti yang telah dipesankan Kyai
Gringsing.
"Mari Ki Widura."Sambut kyai Gringsing yang telah
bersiap duduk di tikar pandan tepat di tengah-tengah sanggar itu.
"Ki Widura,sekali lagi aku pesankan kepada Ki Widura.
Apapun yang nanti akan Ki Widura saksikan,jangan sekalipun menceritakan kepada
siapapun."
"Baik Kyai. Akan aku jaga amanah dari Kyai."
Menjawab Ki Widura
"Terimakasih Ki" berkata Kyai Gringsing
kemudian,"Saatnya telah tiba Ki. Aku akan meminum ramuan terakhir
ini."
Tergesa Ki widura menyiapkan sesuatunya.
"Silahkan Kyai"berdebar dada Ki Widura.
"Mohon maaf Ki widura,sekedar berjaga-jaga. Aku juga
tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Karena itu,aku persilahkan Ki Widura
agak menjauh dari tempatku duduk." Sedikit cemas Kyai Gringsing berpesan.
"Baik Kyai"
Begitulah,setelah segala sesuatunya telah siap,Kyai Gringsing
meminum ramuan terakhir yang berwarna biru terang.
Dipejamkan kedua matanya,sementara tanganya dilipat didepan
dada.
Diperhalusnya aliran pernafasan. Dirasakan oleh Kyai
Gringsing aliran darahnya perlahan-lahan bertambah cepat.
Sementara itu,Ki Widura yang duduk bersila agak menjauh dari
Kyai Gringsing melihat sinar kebiruan yang mulai keluar dari tubuh Kyai
Gringsing.
Seiring dengan itu,udara di sekitar tempat Kyai Gringsing
duduk semakin lama semakin dingin. Bertambah terang sinar biru itu,bertambah
dingin pula udara di sekitar Kyai Gringsing.
"Subhanallah, Allahu Akbar" berkata Ki Widura dalam
ketakjupan.
Termangu mangu Ki
Widura menyaksikan apa yang terjadi dengan Kyai Gringsing. Sebenarnyalah dengan
sengaja Kyai Gringsing telah mencoba ilmu meringankan tubuhnya. Untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh ramuan biru itu terhadap meningkatnya ilmu
meringankan tubuhnya.
Yang terjadi kemudian
telah membuat Ki Widura seperti bermimpi.
Tubuh Kyai Gringsing yang masih di selimuti sinar Biru terang
itu perlahan-lahan telah terangkat naik.
"Luar Biasa"berkata Ki Widura penuh ketakjuban.
Dilihatnya tubuh kyai Gringsing melayang tenang di
tengah-tengah ruangan sanggar itu.
Setelah beberapa lama melayang-layang di udara,tubuh Kyai
Gringsing perlahan turun dan kembali ke tempat awal dia duduk bersila.
Seiring dengan itu pula sinar biru yang menyelimuti tubuh
kyai gringsing perlahan meredup dan akhirnya hilang.
Ki Widura menarik napas dalam-dalam untuk melepaskan segala
ketegangan di dadanya. Tak henti bibirnya memuji Yang Maha Kuasa.
"Kemarilah Ki Widura,"berkata Kyai Gringsing
setelah dia mengakhiri munajadnya.
Ki Widura pun perlahan menghampiri Kyai Gringsing dan
kemudian duduk bersila di hadapan Kyai Gringsing.
"Ki widura,"katanya kemudian
"Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Itulah kasiat
dari ramuan yang terakhir aku minum tadi."Kyai Gringsing menghela napas
perlahan.
"Semua yang Ki Widura saksikan bukanlah ilmu sihir atau
yang sejenis itu. Semua adalah karena olah pernapasan yang dengannya terbuka
simpul-simpul syaraf paling kecil dari wadakku dengan bantuan ramuan itu."
Urai Kyai Gringsing.
Ki Widura menganggu-angguk mengerti. "Ya Kyai. Aku
merasa sangat terhormat bisa menyaksikan ini semua" bergumam Ki widura
pelan.
Sekilas di pandanginya wajah Kyai Gringsing. Tampak oleh Ki
Widura,wajah itu demikian segar bahkan jauh lebih segar dibandingkan ketika
sebelum Kyai Gringsing sakit.
"Ki Widura,malam ini adalah malam Purnama Sidhi."Menerawang
pandangan Kyai Gringsing seolah menembus batas-batas dinding sanggar itu.
"Besok adalah malam bulan purnama penuhh waktu dimana
aku harus menemui orang yang telah memberiku ramuan itu di Suralaya." Kyai
Gringsing berhenti sejenak.
"Benar Kyai."
"Aku tidak bisa menduga-duga apa yang akan orang itu
sampaikan kepadaku."Kyai Gringsing menghela napasnya kembali.
"Tapi firasatku mengatakan,aku tidak akan kembali ke
Padepokan ini lagi Ki Widura."
Terperanjat Ki Widura mendengar kata-kata Kyai Gringsing.
"Maksud Kyai?" Bertanya Ki Widura dengan dada
berdebar.
"Entahlah Ki Widura"lanjut Kyai Gringsing kemudian.
"Begitulah firasat yang aku rasakan. Karena itulah Ki Widura,aku ingin
memberikan sesuatu kepada Ki Widura sebelum kepergianku ke Suralaya besok malam."
Setelah beberapa saat terdiam,Kyai Gringsing meraih sesuatu
dari balik pinggangnya.
Sebuah cambuk berkarah baja telah berada di tangan Kyai
Gringsing.
Ki Widura masih tertunduk dalam tanpa mampu berkata apa-apa.
"Ki Widura."Berkata Kyai Gringsing selanjutnya.
"Aku pecayakan cambuk ku ini kepada Ki Widura sebagai
simbol kepercayaanku kepada Ki Widura untuk melanjutkan kepemimpinan padepokan
Orang Bercambuk."
Bergetar dada Ki Widura mendengar kata-kata Kyai Gringsing.
Hanya sejenak dia mengangkat wajahnya memandang Kyai
Gringsing kemudian menunduk dalam kembali.
"Ki Widura,panggil cantrik tertua sekarang. Biarlah dia
menjadi saksi semuanya." Berkata Kyai Gringsing.
"Baik Kyai."
Maka selanjutnya,seorang cantrik tertua dari Perguruan Orang
bercambuk telah berada pula di dalam sanggar itu.
Cantrik itu tidak tahu apa yang telah terjadi atas Kyai
Gringsing. Dia masih mengira Guru nya itu dalam kondisi lemah karena ketuaanya.
"Ki Widura," kyai Gringsing kembali berkata setelah
Ki Widura memanggil cantrik tertua padepokan.
"Terimalah cambuk ini."
Dengan tangan bergetar,diterimanya cambuk itu dengan kedua
tangannya.
Nafas Ki Widura seolah tercekat di dada. Rasa haru yang
sangat telah menghentak-hentak di hatinya.
"Agahan,kamu menjadi saksi atas apa yang terjadi malam
ini." Berkata Kyai Gringsing kepada cantrik tertua itu.
"Baik Guru."Menjawab cantrik itu ikut merasakan
keharuan yang sangat.
Sementara Ki Widura tak lagi mampu membendung air mata yang
mengalir dari kedua matanya.
"Murid-muridku."Berkata. Kyai Gringsing
selanjutnya,
"Sudah cukup aku membimbing kalian. Sudahh saatnya aku
untuk menyerahkan kelanjutan perguruan ini kepada kalian.
Sampaikan salam dan maafku ku untuk semua orang-orang yang
sangat aku sayangi."
"Kyai" Ki Widura semakin dalam larut dalam
keharuannya.
Kyai Gringsing menghela nafasnya dalam-dalam.
Dibiarkannya Ki Widura dan Cantrik tertua itu untuk merenungi
semua yang di katakannya.
Setelah itu,Kyai Gringssing kembali memberi
pentunjuk-petunjuk apa yang harus Ki Widura lakukan atas Perguruan Orang
Bercambuk.
Demikian lah,akhirnya pada malam itu semua kepemimpinan
perguruan telah di serahkan kepada Ki Widura.
Pada malam berikutnya,seperti sudah di rencanakan, Kyai
Gringsing telah bersiap untuk meninggalkan padepokan kecilnya.
Dengan di antar Ki Widura sampai di depan pintu regol
padepokan,maka Kyai Gringsing pun telah benar-benar bersiap untuk pergi.
"Ki Widura." Berkata Kyai Gringsing sebelum
dilangkahkan kakinya meninggalkan padepokannya.
"Sekali lagi aku pesankan kepada Ki Widura,untuk tidak
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku." sejenak dihela
nafasnya. Kyai Gringsing berkata selanjutnya," Aku tidak tahu apakah kita
akan bertemu kembali Ki Widura."
Kembali Ki Widura hanyut dalam rasa haru yang sangat.
"Kyai." Ditatapnya lekat-lekat Kyai Gringsing tanpa
mampu berkata-kata lagi.
"Aku mohon diri Ki Widura. Selamat tinggal."Berkata
Kyai Gringsing
" Assalamu'alaikum warahmatullah." Tutup Kyai
Gringsing
"Wa'alaikum salam warahmatullah."
Sedikit terbata dijawabnya salam Kyai Gringsing.
Sejurus kemudian Kyai Gringsing telah melangkah pergi
meninggalkan padepokan kecilnya.
"Selamat jalan Kyai."Perlahan bibir Ki Widura
berdesis.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 08 )
"Ehm."
Terperanjat Kyai Gringsing tersadar dari lamunan panjangnya
mendengar Sunan Muria berdeham.
"Mohon maaf Kanjeng Sunan,"berkata Kyai Gringsing
yang segera dapat menguasai perasaan harunya mengingat kejadian beberapa tahun
yang lalu itu.
"Tidak mengapa Kyai." Sambil tersenyum Sunan Muria
melanjutkan," Memang rasa rindu kita kepada orang-orang tercinta kadang
membuat kita kehilangan sebagian kesadaran kita."
Kyai Gringsing pun tersenyum mendengar perkataan Sunan Muria.
"Begitulah Kanjeng"
"Kyai" lanjut Sunan Muria kemudian," Ketika malam
bulan purnama penuh di Suralaya sudah sedikit aku sampaikan pesan dari Ayahanda
Sunan Kalijaga kepada Kyai."
Sebelum sempat Sunan Muria melanjutkan perkataanya,terdengar
suara berdebum diikuti tanah yang bergetar keras.
Kedua orang berilmu sangat tinggi itu bertakbir bersama
memuji Kebesaran Sang Penguasa Merapi.
Dengan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa,Sunan Muria
melanjutkan.
" Kyai, sekarang saatnya telah tiba bagi Kyai untuk
melaksanakan apa yang Ayahanda Sunan Kalijaga pesankan."
Ditariknya nafas dalam-dalam,kemudian Kyai Gringsing pun
berkata pula, "Seperti kesedian ku waktu itu Kanjeng Sunan,Aku akan
melaksanakan semua pesan Kanjeng Sunan Kalijaga sebatas kemampuan ku."
"Sebelumnya Aku atas nama Ayahanda Kanjeng Sunan
Kalijaga mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kesediaan Kyai
Gringsing." Setelah menghela nafas,Sunan Muria melanjutkan" Sebelum
itu,biarlah aku ceritakan sedikit yang saya tahu tentang anak muda yang tinggal
di rumah Ki Rangga Agung Sedayu."
"Sukra?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
"Benar Kyai"
Sunan Muria menggeser posisi duduknya.
Lanjutnya,"ketahuilah Kyai,beberapa puluh tahun yang lalu Ayahanda pernah
bertempur mengadu kesaktian sebagai seorang ksatria dengan seorang yang berilmu
tinggi di daerah Pegunungan Selatan di sekitar Petilasan Dlepih."
Berkerut kening Kyai Gringsing mendengar penuturan Sunan
Muria.
"Siapa orang itu Kanjeng Sunan?" Bertanya Kyai
Gringsing.
Sunan Muria menghela nafas perlahan. Selanjutnya
berkata," Sayang Ayahanda tidak bersedia untuk mengatakan nama orang sakti
itu Kyai."
"Lalu apa hubungannya denga Sukra,Kanjeng ?"
Berkata Sunan Muria melanjutkan,"Orang itu mempunyai
seorang anak perempuan bernama Rara Widayanti."
"Rara Widayanti?" Kembali berkerut kening Kyai
Gringsing.
"Benar Kyai. Dan Rara Widayanti itulah Ibu dari
Sukra."Jelas Sunan Muria kemudian.
"Ibu dari Sukra?" Berkata Kyai Gringsing
melanjutkan " Yang Aku tahu,ibu dari Sukra itu bernama Nyai Sarimah
,Kanjeng."
"Nama itu pemberian dari Ayahanda Sunan Kalijaga ketika
Ayahanda menitipkan anak perempuan itu kepada Sepasang suami istri di Perdikan
Menoreh Kyai."
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 08 )
"Ehm."
Terperanjat Kyai Gringsing tersadar dari lamunan panjangnya
mendengar Sunan Muria berdeham.
"Mohon maaf Kanjeng Sunan,"berkata Kyai Gringsing
yang segera dapat menguasai perasaan harunya mengingat kejadian beberapa tahun
yang lalu itu.
"Tidak mengapa Kyai." Sambil tersenyum Sunan Muria
melanjutkan," Memang rasa rindu kita kepada orang-orang tercinta kadang membuat
kita kehilangan sebagian kesadaran kita."
Kyai Gringsing pun tersenyum mendengar perkataan Sunan Muria.
"Begitulah Kanjeng"
"Kyai" lanjut Sunan Muria kemudian," Ketika
malam bulan purnama penuh di Suralaya sudah sedikit aku sampaikan pesan dari
Ayahanda Sunan Kalijaga kepada Kyai."
Sebelum sempat Sunan Muria melanjutkan perkataanya,terdengar
suara berdebum diikuti tanah yang bergetar keras.
Kedua orang berilmu sangat tinggi itu bertakbir bersama
memuji Kebesaran Sang Penguasa Merapi.
Dengan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa,Sunan Muria
melanjutkan.
" Kyai, sekarang saatnya telah tiba bagi Kyai untuk
melaksanakan apa yang Ayahanda Sunan Kalijaga pesankan."
Ditariknya nafas dalam-dalam,kemudian Kyai Gringsing pun
berkata pula, "Seperti kesedian ku waktu itu Kanjeng Sunan,Aku akan
melaksanakan semua pesan Kanjeng Sunan Kalijaga sebatas kemampuan ku."
"Sebelumnya Aku atas nama Ayahanda Kanjeng Sunan
Kalijaga mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kesediaan Kyai
Gringsing." Setelah menghela nafas,Sunan Muria melanjutkan" Sebelum
itu,biarlah aku ceritakan sedikit yang saya tahu tentang anak muda yang tinggal
di rumah Ki Rangga Agung Sedayu."
"Sukra?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
"Benar Kyai"
Sunan Muria menggeser posisi duduknya.
Lanjutnya,"ketahuilah Kyai,beberapa puluh tahun yang lalu Ayahanda pernah
bertempur mengadu kesaktian sebagai seorang ksatria dengan seorang yang berilmu
tinggi di daerah Pegunungan Selatan di sekitar Petilasan Dlepih."
Berkerut kening Kyai Gringsing mendengar penuturan Sunan
Muria.
"Siapa orang itu Kanjeng Sunan?" Bertanya Kyai
Gringsing.
Sunan Muria menghela nafas perlahan. Selanjutnya
berkata," Sayang Ayahanda tidak bersedia untuk mengatakan nama orang sakti
itu Kyai."
"Lalu apa hubungannya denga Sukra,Kanjeng ?"
Berkata Sunan Muria melanjutkan,"Orang itu mempunyai
seorang anak perempuan bernama Rara Widayanti."
"Rara Widayanti?" Kembali berkerut kening Kyai
Gringsing.
"Benar Kyai. Dan Rara Widayanti itulah Ibu dari
Sukra."Jelas Sunan Muria kemudian.
"Ibu dari Sukra?" Berkata Kyai Gringsing
melanjutkan " Yang Aku tahu,ibu dari Sukra itu bernama Nyai Sarimah
,Kanjeng."
"Nama itu pemberian dari Ayahanda Sunan Kalijaga ketika
Ayahanda menitipkan anak perempuan itu kepada Sepasang suami istri di Perdikan
Menoreh Kyai."
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 10 )
"Lantas apa
yang Kanjeng Sunan Kalijaga pesankan untuk ku,kanjeng"bertanya Kyai
Gringsing kemudian.
"Menurut panjangka Kanjeng Sunan Kalijaga"menjawab
Sunan Muria kemudian,"Akan tiba saat dimana Bumi Mataram akan dipimpin
seorang ksatria pinilih yang akan mempersatukan wilayah Jawadwipa ini."
Setelah menghela nafas,lanjunya kemudian "Untuk itulah
Kyai,Ayahanda berharap ada anak turun Nyai Widayanti yang akan ikut
memperjuangkan cita-cita ksatria itu."
Kyai Gringsing mulai bisa meraba kemana arah dari pesan Sunan
Kalijaga.
"Apakah Aku harus mengangkat Sukra sebagai murid
Kanjeng?"
"Tentu tidak harus Kyai mengangkatnya sebagai
murid."Lanjut Sunan Muria.
"Tidak ada yang bisa memaksakan kepada Kyai mengangkat
Sukra menjadi murid Kyai. Tidak juga Ayahanda Sunan."
Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti.
"Ayahanda hanya menginginkan Kyai Gringsing untuk
meletakkan dasar-dasar olah kanuragan kepadanya."
Begitulah akhirnya pembicaraan dua orang yang berilmu tinggi
itu berkisar apa yang harus Kyai Gringsing lakukan seperti yang sudah Sunan
Kalijaga pesankan lewat putra nya,Sunan Muria.
Sementara itu,kabut di sekitar lereng merapi itu pun perlahan
mulai turun. Matahari memancarkan cahaya kehidupan, kepada setiap rakyat di Bumi Mataram.
Merapi pun terlihat bernafas tenang. Kepulan asap putih dari
puncaknya seolah mengisyaratkan bahwa Sang Merapi akan kembali dalam tidur
panjangnya.
"Kyai. Aku harus segera kembali ke Gunung Muria."
Berkata Sunan Muria.
"Kalau Yang Maha Kuasa mengijinkan,kita akan berjumpa
kembali" tutup Sunan Muria.
"Tentu Aku tidak bisa menahan Kanjeng Sunan yang pasti
sudah ditunggu murid-murid Kanjeng."
Berhenti sejenak,Kyai Gringsingpun melanjutkan, "Aku
juga akan segera meninggalkan tempat ini Kanjeng."
"Baiklah Kyai,Aku mohon diri. Aku juga berharap Kyai
segera dapat mengambil Kitab itu.
Assalamu'alaikum,"salam Sunan Muria sebelum beranjak
dari tempat itu.
"Wa'alaikum salam."
Ditatapnya punggung Sunan Muria yang berjalan tenang
meninggalkan gubuk tempat tinggalnya.
"Aku harus secepatnya menemui Sukra." Membatin Kyai
Gringsing."Dan juga segera mengambil Kitab itu"
Entah kitab apa yang dimaksud Kyai Gringsing itu. Hanya
Kanjeng Sunan Kalijaga dan putra nya Kanjeng Sunan Muria serta Kyai Gringsing
sendiri yang mengetahuinya.(*silahkan pembaca yang budiman bertanya kepada
mereka,bisa lewat sms,WA,atau BBM,kitab apa gerangan yang di maksud #nahLho)
Segeralah Kyai Gringsing bersiap diri. Ditanggalkannya semua
yang selama ini menjadi ciri dari Kyai Gringsing si orang berjambuk.
"Tidak ada lagi Kyai Gringsing." Bergumam Kyai
Gringsing seolah kepada dirinya.
Maka begitulah,sejak hari itu Kyai Gringsing akan memulai
peran barunya.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 11 )
Sementara itu di
Perdikan Menoreh telah kembali pula menjadi tenang. Matahari yang mulai
beranjak semakin tinggi memancarkan sinarnya. Embun pagi pun telah pula berajak
pergi dari atas pucuk-pucuk padi yang mulai menguning.
Di rumahnya Agung Sedayu pun telah bersiap pula pergi ke
barak Pasukan Khusus Mataram yang berada di Perdikan Menoreh. Bagaimanapun
ketegangan dengan Kadipaten Panaraga telah memaksa prajurit-prajuritnya dalam
kesiagaan sepenuhnya.
Dengan ditemani Ki Jayaraga yang belum lah pergi ke
sawah,Agung Sedayu menikmati penganan ala kadarnya yang telah disiapkan oleh
Sekar Mirah istri yang sangat dicintanya itu (*dan satu-satunya..heehe..) di
serambi depan rumahnya.
"Ki Jayaraga."Berkata Agung Sedayu setela
diteguknya teh hangat di depannya.
"Agaknya Merapi telah menjadi tenang kembali."
"Benar Ki Rangga,"berkata Ki Jayaraga
selanjutnya," Segala puji bagi Sang Pencipta Alam Semesta. Bencana itu
tidaklah terjadi."
Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Diteguknya teh yang
tersaji didepannya. Diambilnya pula sepotong penganan dan dengan penuh sukur
dimakannya.
"Mari Ki Rangga,nanti penganan ini keburu dingin.
Agaknya Nyai Sekar Mirah tahu kalau gigiku tak lagi mampu mengunyah makanan
yang terlalu keras."
Tersenyum Agung Sedayu mendengar kelakar dari Ki Jayaraga.
"Tetapi agakny berbanding terbalik dengan ilmu kanuragan
yang Ki Jayaraga miliki." Berkata Agung Sedayu kemudian. " Gigi
memang sudah mulai lemah,tetapi tangan Ki Jayaraga akan mampu memecahkan batu
sekepala kerbau sekalipun."
Tertawa pelan Ki Jayaraga mendengar perkataan Agung Sedayu
itu.
"Tentu tidak bisa dibandingkan dengan sorot mata Ki
Rangga yang bisa meruntuhkan bukit"
Merekapun tertawa berdua bersamaan. Sementara Sekar Mirahpun
telah keluar membawa perlengkapan Agung Sedayu.
"Tetapi ada baiknya Aji Sigar Bumi Ki Jayaraga tidaklah
digunakan pada saat Ki Jayaraga mengayunkan cangkulnya" Sekar Mirah
menimpali guyonan mereka berdua.
Kembali mereka tertawa lepas menambah segarnya pagi itu.
"Dimana Sukra,Mirah?" Beberapa saat kemudian
bertanya Agung Sedayu.
"Dia sudah kembali ke sawah Kakang."Jawab sekar
mirah sambil mengulurkan perlengkapan.
"Anak itu nampaknya sudah mulai beranjak dewasa."
Ki Jayaraga menghela nafas perlahan,kemudian berkata "
Benar Nyai. Minatnya mempelajari olah kanuraganpun juga semakin kuat."
"Aku juga melihatnya demikian Ki."Berkata Agung
Sedayu sambil membenahi pakaian keprajuritanya.
"Semoga anak itu dapat berkembang menjadi laki-laki
pinunjul di kemudian hari"
"Akupun berharap demikian Ki Rangga"
Beberapa saat kemudian,Agung Sedayu telah benar-benar siap.
"Mirah, Aku berangkat dulu."
Sekar Mirahpun mencium punggung tangan suaminya dan
berkata," Berhati-hatilah Kakang"
"Aku mohon diri Ki."
"Silahkan Ki Rangga." Ki Jayaraga pun berdiri dari
duduknya.
"Aku juga akan segera menyusul Sukra ke sawah."
Demikianlah di saat matahari semakin tinggi,maka kehidupan
Perdikan Menoreh itu kembali berjalan seperti hari-hari sebelumnya.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 12 )
Sementara itu di hutan
lereng Merapi sebelah selatan,terlihat bayangan hitam berkelebat cepat.
Seolah seringan kapas,tubuh orang itu laksana terbang tanpa
menjejak bumi.
Tidak berapa lama,orang itu telah sampai ditepi hutan. Orang
itu berhenti sejenak.
"Agaknya aku telah sampai di Padukuhan Tela
Wangi,"bergumam orang itu.
"Sebaiknya aku tidak memasuki Padukuhan ini. Aku harus
segera menemui Kyai Sarwa Rupa di Padepokan Kelir Putih." Berkata orang
itu lagi yang tak lain adalah Kyai Gringsing.
Demikianlah,akhirnya orang itu kembali melanjutkan
perjalanannya. Tidak melalui Padukuhan Tela Wangi,tetapi dia sengaja melewati
jalan setapak di pinggir hutan diluar Padukuhan itu.
Menjelang tengah hari Kyai Gringsing telah sampai di sebuah
kaki bukit yang puncaknya tampak putih laksana kelir. Di sanalah Padepokan
Kelir Putih tempat tinggal Kyai Sarwa Rupa berada.
Dengan kemampuan meringankan tubuhnya yang luar biasa
tinggi,tentu bukan hal yang aneh bila tidak berapa lama Kyai Gringsing telah
pula sampai di puncak bukit kelir.
Dari kejauhan tampak oleh Kyai Gringsing regol padepokan
Kelir Putih itu. Melangkah pelan Kyai Gringsing menuju pintu regol Padepokan.
Ditebarkannya pandangannya.
"Padepokan ini sudah banyak berubah."Membatin Kyai
Gringsing.
Tiba-tiba dari arah regol Padepokan dilihatnya seseorang berdiri seolah menyambut
Kyai Gringsing.
"Assalamu'alaikum ki sanak" salam Kyai Gringsing
ketika sudah berhadapan dengan orang itu.
"Wa'alaikum salam ,Kyai. Marilah Kyai,guru sudah
menunggu kehadiran Kyai." Jawab orang itu yang adalah cantrik dari
padepokan Kelir Putih.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar itu.
"Jadi Kyai Sarwa Rupa sudah tahu akan
kedatanganku"berkata Kyai Gringsing kemudian.
"Guru hanya mengatakan,sebelum matahari tergelincir akan
ada tamu yang datang ke Padepokan." Jawab cantrik itu sambil
mempersilahkan Kyai Gringsing mengikuti dirinya.
Dipersilahkan Kyai Gringsing naik ke Pendapa padepokan.
Ternyata di sana telah menunggu seorang yang juga sudah sangat tua. Seorang
berjubah putih ,berwajah bersih seolah bersinar di hiasi jenggot panjang di
dagunya.
"Assalamu'alaikum Kyai,"salam Kyai Gringsing
kemudian.
"Wa'alaikum salam, mari Kyai silahkan duduk.".
Sambut orang itu yang adalah Kyai Sarwa Rupa.
"Maafkan bila aku bukanlah seorang tuan rumah yang baik
sehingga tidak bisa menyambut Kyai dengan lebih baik.
Tertawa Kyai Gringsing mendengar itu. Setelah beberapa saat
saling mengabarkan keadaan masing-masing,maka berkata Kyai Gringsing kemudian.
"Kyai,seperti juga kyai yang sudah mengetahui
kedatanganku kesini,tentu Kyai juga sudah mengetahui maksud kedatanganku ke
tempat ini."
"Tentu tidaklah demikian Kyai,"berkataKyai Sarwa
Rupa kemudian sambil tertawa perlahan.
"Kalaulah tidak karena ada yang memberitahukan kepadaku
akan kedatangan Kyai Gringsing,tentu aku juga tidak akan mengetahuinya."
"Kyai terlalu merendah."Tersenyum Kyai Gringsing
dan melanjutkan. "Baiklah Kyai,tentu Kanjeng Sunan Muria telah
menceritakan semuanya kepada Kyai tentang maksud kedatanganku ini."
Tersenyum Kyai Sarwa Rupa,kemudia katanya,
"Benar Kyai, sebenarnyalah memang beberapa purnama yang
lalu Kanjeng Sunan telah datang ke padepokan ini."
Kyai Sarwa Rupa menghela nafas,selanjutnya berkata."
Beliau Kanjeng Sunan menitipkan sebuah kitab yang menurut keterangan
Beliau,kitab itu di tulis oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang harus aku berikan
kepada Kyai Gringsing."
Sebelum sempat Kyai Sarwa Rupa berkata,telah datang seorang
cantrik membawa hidangan penganan beserta wedang sereh gula merah yang hangat.
"Silahkan Kyai, hasil kebun dari murid-murid Padepokan
Kelir Putih."Berkata Kyai Sarwa Rupa "Tempat ini akan selalu dingin
sepanjang hari meskipun matahari bersinar terik. Sehingga wedang sereh ini akan
bisa sedikit menghangatkan badan kita."
"Terila kasih Kyai."
Setelah sejenak menikmati apa yang telah dihidangkan,Kyai
Sarwa Rupa melanjutkan."Di samping itu Beliau Kanjeng Sunan juga sudah
memintaku membuatkan sebuah topeng kulit. Tetapi untuk topeng itu,sampai saat
ini memang belum aku buat. Karena aku juga perlu tahu,siapakah yang akan mengenakan
topeng buatanku itu nantinya."
Kyai Gringsing menghela nafas. Maka sejurus kemudian Kyai
Gringsing telah menceritakan semua yang telah dialaminya. Diceritakan pula
tentang pesan Kanjeng Sunan Kalijaga kepadanya lewat Kanjeng Sunan Muria.
"Sebuah amanah yang sebenarnyalah sangat berat Kyai
." Berkata Kyai Gringsing kemudian.
Kyai Sarwa Rupa menganguk-anguk mengerti. "Jadi topeng
itu Kyai Gringsing sendiri yang akan mengenakannya?" Bertanya Kyai Sarwa
Rupa.
"Begitulah Kyai. Tentu Kyai bisa menilai topeng semacam
apa yang pantas aku kenakan."
Sambil tersenyum Kyai Gringsing berkata,"Apakah Kyai
menghendaki topeng berwajah ksatria tampan?"
Tertawa Kyai Gringsing mendengar kelakar Kyai Sarwa Rupa.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 13 )
"Sebenarnyalah Kyai,Aku sudah menyiapkan uba rampe untuk
membuat topeng itu." Berkata Kyai Sarwa Rupa kemudian.
"Aku memerlukan waktu barang sepasar untuk menyelesaikan
topeng itu. Sementara itu Aku persilahkan Kyai untuk sementara waktu tinggal di
Padepokan ini.
"Terimakasih Kyai. Tapi Aku mohon maaf,biarlah untuk
beberapa hari ini Aku melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh."
Kyai Sarwa Rupa pun maklum dengan keinginan Kyai Gringsing.
"Baiklah Kyai,kalau memang itu kehendak Kyai. Sementara
itu,aku akan menyelesaikan topeng itu."Berkata Kyai Sarwa Rupa. Kemudian
lanjutnya," Tapi apakah tidak sebaiknya malam nanti Kyai Gringsing
menginap di sini?"
"Sekali lagi Aku ucapkan banyak terima kasih Kyai. Tapi
akan lebih baik kalau Aku secepatnya mengetahui keadaan Sukra di Menoreh."
Menjawab Kyai Gringsing.
"Selanjutnya Kyai, Aku mohon perkenan Kyai untuk membawa
serta Kitab itu sekarang"
"Baiklah Kyai, Akan Aku ambilkan."Berkata Kyai
Sarwa Rupa. Sesaat kemudian kemudian Kyai Sarwa Rupa pun telah pula kembali
dengan membawa sebuah peti kayu yang
berukir indah dan sangat halus.
"Aku tidak mengetahui apa isi peti ini sebenarnya
Kyai." Lanjut Kyai Sarwa Rupa kemudian," Kalau lah aku dapat
menyebutnya berisi Kitab,karena memang Kanjeng Sunan berkata demikian."
"Terimakasih Kyai."
Demikianlah akhirnya setelah Kyai Gringsing melaksanakan
kewajiban kepada Sembahanya,maka menjelang senja Kyai Gringsing telah
meninggalkan Padepokan Kelir Putih.
"Sebelum tengah malam mudah-mudahan aku sudah sampai di
tepi Kali Praga." Membatin Kyai Gringsing.
Kemudian yang terjadi adalah sangat mengagumkan.
Tubuh Kyai Gringsing kemudian bergerak dengan sangat cepat
dan ringan. Entah Aji Saepi Angin atau Aji Lipat Bumi yang telah Kyai Gringsing
terapkan.
Orang tua yang berilmu sangat tinggi dan telah hampir
sempurna itu bergerak laksana terbang. Sekali-kali Kyai Gringsing berjalan
biasa ketika mendekati sebuah padukuhan. Sengaja Kyai Gringsing tidak masuk
Padukuhan.
Demikianlah,akhirnya menjelang tengah malam Kyai Gringsing
telah tiba di tepi Kali Praga. Dipandanginya arus Kali Praga yang nampak tenang
itu.
"Aku tidak
mungkin menggunakan rakit untuk menyeberangi Kali Praga karena mungkin akan ada
yang bisa mengenali aku."gumam Kyai Gringsing.
Sejurus kemudian Kyai
Gringsing telah mengambil beberapa ranting pohon. Dipatahkan lah ranting itu
menjadi beberapa bagian. Kemudian Kyai Gringsing melangkah mendekati tepi Kali
Praga.
Setelah menyebut nama Sembahannya,Kyai Gringsing melemparkan
potongan-potongan ranting itu ke Kali Praga.
Yang kemudian terjadi sungguh suatu pertunjukan ilmu
meringankan tubuh yang luar biasa tinggi. Kyai Gringsing bergerak sangat ringan
dan cepat di atas ranting-ranting yang telah dia lemparkan ke Kali Praga itu.
Tidak berapa lama Orang tua itu telah berada di seberang Kali Praga.
"Alhamdulillah." Desis Kyai Gringsing.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 14 )
Begitulah
setibanya di seberang Kali Praga,Kyai Gringsing melanjutkan perjalanannya
menuju Tanah Perdikan Menoreh.
Sengaja Kyai Gringsing tidak ingin bertemu pengawal-pengawal
padukuhan di sepanjang jalan menuju tanah perdikan Menoreh.
Sebenarnyalah Kyai Gringsing merasakan kesiagaan penuh para
pengawal-pengawal padukuhan itu dengan semakin memburuknya hubungan antara
Panaraga dan Mataram.
Tidak beberapa lama kemudian sampailah Kyai Gringsing di
regol depan rumah Agung Sedayu.
Sesaat Kyai Gringsing hanyut dalam keharuan. Bagaimanapun
juga tempat itu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di rumah itulah tinggal murid terkasihnya Ki Rangga Agung
Sedayu. Seorang laki-laki pilih tanding,yang juga adalah teman sepengembaraan
Panembahan Senopati dimasa mudanya.
Sementara itu di dalam biliknya, Agung Sedayu merasakan
desiran di dadanya.
"Ada apa dengan malam ini."Membatin Agung Sedayu.
Sekilas dipandanginya Sekar Mirah yang
tertidur pulas di sampingnya. Dibenahi kain yang menyelimuti tubuhnya. Sebelum
beranjak dari pembaringan ,perlahan di ciumnya kening istri tercintanya itu.
Perlahan Agung Sedayu melangkah keluar menuju halaman rumahnya. Ditatapnya langit
yang hitam namun berkilauan bertabur bintang.
"Malam yang aneh. Betapa perasaanku menjadi sangat
damai,tetapi rasa-rasanya dada ini semakin berdebar." Bergumam Agung
Sedayu.
Sementara itu,langkahnya tidak berhenti di halaman. Perlahan
tanpa disadarinya dia telah berdiri di regol rumahnya. Dihelanya perlahan
nafasnya.
"Benar-benar aneh." Dipertajam seluruh indranya. Di
trapkannya Aji sapta panggraita, dan Aji Sapta Pangrungu. Tapi sama sekali
Agung Sedayu tidak merasakan kehadiran seorangpun di sekitar tempat itu.
Sementara itu hanya beberapa patok dari tempat Agung Sedayu
berdiri,Kyai Gringsing telah mengerahkan tenaga cadangannya untuk menyerap
segala bunyi dari tubuhnya. Dan semenjak Kyai Gringsing meminum ramuan dari
Sunan Kalijaga,seluruh ilmu yang dimiliki Kyai Grising seolah meningkat dua
kali lipatnya. Itulah kenapa Agung Sedayu sama sekali tidak mampu menangkap
kehadiran Kyai Gringsing di tempat itu.
"Maafkan aku Agung Sedayu"membatin Kyai Gringsing,
ingin rasanya segera ditemui murid terkasihnya itu. "Belum saatnya Aku
menemuimu."Berkata Kyai Gringsing dalam hati.
Agung Sedayu yang masih berdiri termangu didepan pintu regol
rumahnya. Tiba-tiba Agung Sedayu merasakan keanehan disekitar tempatnya
berdiri. Perlahan- lahan dilihatnya kabut putih yang semakin lama semakin
tebal.
"Kabut ini"termangu-mangu Agung Sedayu melihat
kabut yang semakin pekat itu.
"Mungkinkah?" Berkata Agung Sedayu seperti kepada
dirinya sendiri.
(Punten ndalem sewu badhe boci rumiyen,salam)
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 15 )
Sebenarnyalah memang dengan sengaja Kyai Gringsing telah
mengetrapkan ilmu kabut nya. Kabut itu memang tidak bertambah pekat. Tapi
sudahlah cukup bagi Agung Sedayu tahu,bahwa kabut itu bukanlah kabut
sewajarnya.
Semakin berdebar dada Agung Sedayu. Kakinya seolah tak mampu
lagi digerakkan. Sementara rasa haru yang membuncah didadanya semakin membuat
nya hanyut.
Berbagai macam pertanyaan bergumpal di dirinya.
"Siapakah jalur
keturunan murid Perguruan Windujati yang masih mampu mengetrapkan Ilmu Kabut
ini"
Dengan panggraita batin nya yang tajam,tahulah Agung
Sedayu,bahwa orang yang telah mengetrapkan ilmu kabut itu,sama sekali tidaklah
berniat jahat.
Sementara itu Ki Jayaraga yang juga telah merasakan sesuatu
yang aneh telah keluar pula di regol depan rumah Agung Sedayu.
"Apa yang terjadi Ki Rangga,"bertanya Ki Jayaraga
kemudian.
Agung Sedayu menatap Ki Jayaraga tanpa menjawab sepatah
katapun.
Ki Jayaraga pun segera tahu bahwa kabut disekitar tempat itu
bukanlah kabut sewajarnya.
"Ki Rangga, bukankah ini ilmu kabut perguruan
Windujati?"
"Demikianlah Ki Jayaraga," menjawab Agung Sedayu.
Berkata Ki Jayaraga kemudian," Selain Ki Rangga
sendiri,siapa yang saat ini mampu menguasai ilmu ini Ki Rangga?"
Termangu-mangu Agung Sedayu mendengar pertanyaan Ki Jayaraga.
Sebenarnyalah Agung Sedayu tahu pasti,bahwa sepeninggal Kyai Gringsing belum
ada yang mampu menguasai ilmu kabut itu kecuali dirinya. Itupun masih jauh dari
sempurna.
"Entahlah Ki," hanya itu yang mampu keluar dari
bibir Agung Sedayu. Rasa-rasanya suaranya tercekat oleh rasa yang tidak dia
ketahui.
Sementara itu Kyai Gringsing yang telah menarik kembali ilmu
kabutnya, segera berkelebat dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu. Memang
Ilmu Kyai Gringsing setelah meminum ramuan dari Kanjeng Sunan Kalijaga telah
menjadi sangat luar biasa tinggi. Sehingga Agung Sedayu dan Ki Jayaraga,dua
orang yang sangat pilih tanding di seluruh tlatah Mataram itupun tidak mampu
menangkap kehadirannya.
Untuk beberapa saat lamanya, Agung Sedayu dan Ki Jayaraga
masih berada di tempat itu.
"Ki Rangga,biarlah aku keluar sebentar untuk sekedar
melihat-lihat keadaan sekitar tempat ini." Berkata Ki Jayaraga.
"Silahkan Ki, Aku juga ingin bermunajad kepada Yang Maha
Agung di sisa malam ini."
"Baiklah Ki Rangga,aku mohon diri." Setelah
mengucap salam,Ki Jayaraga melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Sementara
Agung Sedayu menuju Mushola di samping rumahnya.
Demikianlah akhirnya berpisahlah dua orang berilmu tinggi
itu. Ki Jayaraga telah melangkah menyusuri jalan perdikan itu. Sesekali ditemuinya pengawal perdikan yang masih saja
berjaga bergantian dengan kewaspadaan yang tinggi.
Tanpa terasa Ki Jayaraga telah berada di jalan keluar
perdikan Menoreh menuju bulak panjang.
Tiba-tiba Ki Jayaraga mendengar desir sangat halus tidak jauh
dari tempatnya berdiri. Ki Jayaraga pun berkelebat cepat menuju ke arah suara
itu. Tapi betapa herannya Ki Jayaraga sama sekali tidak menemukan apapun di
tempat itu.
"Luar biasa ilmu orang ini. Mungkin dia juga yang telah
telah mengetrapkan ilmu kabut di halaman rumah Ki Rangga."Berkata Ki
Jayaraga dalam hati.
Di tajamkannya Aji Sapta Pangrungu. Tiba-tiba beberpa langkah
di belakang Ki Jayaraga berdiri,didengarnya langkah halus mendekatinya.
"Assalamu'alaikum Ki Jayaraga,"berkata orang yang
baru keluar dari balik gerumbul.
Terkesiap Ki Jayaraga melihat kehadiran orang itu. Bukan saja
karena dia tidak mampu mengetahui
kehadirannya sebelumnya,tetapi Ki Jayaraga bagaikan berada di alam mimpi
melihat orang itu.
"Wa'alaikum salam."Dengan terbata-bata Ki Jayaraga
menjawab salam itu. Ditatapnya lekat-lekat orang tua yang berdiri dihadapannya
itu.
"Kyai Gringsing." Berdesis suara Ki Jayaraga hampir
tak terdengar.
"Benar Ki Jayaraga."Menjawab orang itu perlahan. Ki
Jayaraga pun tak lagi kuasa menahan air mata haru. Di peluknya Kyai Gringsing
erat. Sangat erat. Demikian Kyai Gringsingpun menjadi sangat terharu pula.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 16 )
Demikianlah untuk beberapa saat,kedua orang tua itu hanyut
dalam keharuan yang dalam. "Apa kabar Ki Jayaraga?" Bertanya Kyai
Gringsing kemudian
"Seperti yang Kyai lihat,Yang Maha Agung masih
senantiasa melindungi aku."Menjawab Ki Jayaraga dengan suara parau
terharu.
"Dan agaknya Kyai sendiri sekarang bertambah muda"
lanjut Ki Jayaraga.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar perkataan Ki
Jayaraga. "Semua juga atas kemurahan Yang Maha Kuasa Ki." Berkata
Kyai Gringsing kemudian.
"Agaknya kita bisa kembali memulai petualangan kita
seperti waktu kita momong Raden Rangga waktu itu Kyai." Menyahut Ki
Jayaraga kemudian.
( Silahkan sanak
kadang membaca kembali ADBM sekitar seri 197 )
Tersenyum Kyai Gringsing kemudian berkata,"Tentu akan
sangat menyenangkan apabila hal itu bisa kita lakukan lagi Ki"
Setelah bebarapa saat masing-masing larut dalam kenangan masa
lalu itu,Ki Jayaraga berkata," Mari Kyai,agaknya banyak yang bisa Aku
dengarkan cerita dari Kyai Gringsing selama ini. Di tengah pategalan itu ada
gubuk tempat kita bisa bicara lebih nyaman."
"Mari Ki,memang ada beberapa hal yang ingin Aku
sampaikan kepada Ki Jayaraga."
Setelah berkata demikian,maka mereka berdua segera beranjak
kesebuah gubuk di tengah pategalan.
"Ki Jayaraga"berkata Kyai Gringsing setelah mereka
berdua berada di gubuk pategalan."Sebelumnya mohon kiranya Ki Jayaraga
memaafkan Aku karena setelah sekian lama baru saat ini aku menemui Ki
Jayaraga"
Ki Jayaraga memperhatikan dengan saksama seolah takut ada
satu kata saja yang terlewat dari apa yang akan di sampaikan Kyai Gringsing.
Setelah menghela nafas Kyai Gringsing
melanjutkan,"Sebenarnyalah Aku memang selama ini aku tinggal menyendiri di
lereng Gunung Merapi sebelah selatan Ki."
Ki Jayaraga mengangguk-angguk mengerti. Begitulah,akhirnya
Kyai Gringsing menceritakan semuanya kepada Ki Jayaraga. Bagaimana ketika suatu
malam seseorang yang ternyata Sunan Muria memberi ramuan langka dari Sunan
Kalijaga. Tentang pertemuannya di Suralaya dengan Sunan Muria,tentang Kitab
dari Sunan Kalijaga yang sekarang juga telah dibawanya. Dan juga tentang Sukra,seorang
bocah yang sekarang sudah beranjak dewasa,cucu dari seorang berilmu tinggi yang
telah dikalahkan oleh Sunan Kalijaga di wilayah Pegunungan Selatan.
Termangu-mangu Ki Jayaraga mendengar semua itu.
"Ki Jayaraga,"setelah menghela nafas Kyai Gringsing
melanjutkan,"Aku bersukur di sisa hidupku yang mungkin tidak berapa lama
lagi ini,Aku masih dapat memberikan sedikit sumbangsihku untuk tanah Mataram
ini."
"Kyai." Setelah beberapa saat keduanya terdiam,Ki
Jayaraga berkata," Tapi kenapa Kyai tidak menemui Agung Sedayu? Alangkah
sangat gembiranya bila Kyai menemui nya."
"Sengaja memang Aku belum akan menemuinya Ki Jayaraga.
Bagaimanapun juga,Aku harus bisa bersikap adil kepada dua orang murid tertuaku
itu Ki. Sementara seperti Ki Jayaraga ketahui,Swandaru sangat berbeda dengan
Agung Sedayu."Kyai Gringsing menghela nafas perlahan,prihatin. Seolah
ingin melepaskan beban di dadanya kembali dihela nafasnya. "Itulah kenapa
aku belum akan menemui Agung Sedayu." Menerawang jauh pandangan Kyai Gringsing
menempus gulitanya malam itu.
Ki jayaraga pun dapat mengerti penjelasan Kyai
Gringsing,meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan. Tapi Ki
Jayaraga pun maklum,bahwa memang Swandaru dan Agung Sedayu sangatlah berbeda
perwatakannya. Dan dapatlah dimengertinya kenapa Kyai Gringsing belum bisa
sepenuhnya percaya kepada Swandaru.
"Ki Jayaraga,dalam hitungan hari aku harus membawa Sukra
bersamaku."
"Maksud Kyai?"
"Benar Ki Jayaraga,dengan sangat terpaksa aku harus
membawanya tanpa seijin Agung Sedayu." Berkata Kyai Gringsing seolah
mengerti apa yang dipikirkan Ki Jayaraga.
"Aku mohon kepada Ki Jayaraga untuk merahasiakan siapa
yang telah membawa Sukra." Kyai Gringsing menghela nafasnya
panjang-panjang.
Sambil tersenyum Ki Jayaraga berkata "Rasanya seandainyapun
seisi rumah Ki Rangga akan menghalangi Kyai mengambil anak itu,akan sia-sia
juga"
"Tentu tidak demikian juga Ki,"tersenyum pula Kyai
Gringsing,lanjutnya " Ini semata-mata aku lakukan untuk tetap menjaga
rahasia jati diri anak itu seperti pesan Kanjeng Sunan Kalijaga. Bagaimanapun
juga,terlalu banyak orang-orang yang mendendam kepada Kakek dari anak itu dan
seluruh jalur keturunannya."
"Aku mengerti Kyai,dan agaknya akupun tidak bisa
tidak,akan ikut dalam pusaran rahasia besar ini sampai saatnya nanti datang
untuk membuka semuanya."
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar perkataan itu.
"Kyai,apakah Kyai juga sudah membuka peti yang menurut
keterangan Kanjeng Sunan Muria adalah Kitab dari Sunan Kalijaga
itu?"Bertanya Ki Jayaraga tiba-tiba.
"Belum Ki. Tapi ada baiknya juga Ki Jayaraga untuk
mengetahui isi Peti kayu ini." Setelah berkata demikian,Kyai Gringsing
membuka bungkusan kain yang selalu dibawa kemana pun Kyai Gringsing pergi.
Berdebar kedua orang tua berilmu tinggi itu tak kala peti
kayu berukir sangat halus dan indah itu telah berada di hadapan mereka.
"Mari kita lihat bersama-sama Ki,apa sebenarnya isi peti
kayu ini." Sedikit bergetar tangan Kyai Gringsing ketika mengangkat
penutup peti itu.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 17 )
Dengan tidak lupa menyebut Nama Sembahannya dan sangat
hati-hati Kyai Gringsing mengangkat pelan penutup peti kayu itu.
"Subhanallah"
Hampir bersamaan kedua orang tua itu memuji sembahannya. Dan
benarlah adanya,didalam peti itu terdapat sebuah kitab bersamak kulit
bergambar tombak bermata tiga. Itulah
Kitab Jaya Kurtuti. Sebagai orang yang sudah sekian lama malang melintang di
dunia olah kanuragan tahulah Kyai Gringsing maupun Ki Jayaraga apa isi dari Kitab
itu.
"Luar biasa," gumam perlahan Ki Jayaraga seolah
kepada dirinya sendiri," Ternyata di ujung senjaku ini, masih
berkesempatan melihat sebuah Kitab ini."
"Benar Ki,"melanjutkan Kyai Gringsing
kemudian."Aku juga baru mendengar tentang Kitab ini dari Guruku sendiri,
Eyang Windujati."
Ternyata disamping sebuah kitab luar biasa itu,juga terdapat
sepasang gelang lebar, berwarna putih keperakan,lentur tapi terlihat sangat
kokoh. Kembali kedua orang sudah sangat berpengalaman itu berdesis perlahan
memuji Keagungan Sembahanya. Dan tahulah Kyai Gringsing maupun Ki Jayaraga
siapa pemilik sepasang gelang itu. Yang menurut cerita adalah seorang yang
berilmu sangat tinggi tapi berwatak angin-anginan. Dalam waktu tertentu dia
laksana malaikat penolong,tetapi saat tertentu laksana malaikat pencabut nyawa yang
sangat tidak mengenal belas kasihan kepada lawan-lawannya. Dan dia bernama Naga
Kala Bhumi. Entah apakah itu nama sebenarnya atau kah sekedar julukan.
"Apakah pemilik gelang ini yang telah dikalahkan oleh
Kanjeng Sunan Kalijaga Kyai"bertanya Ki Jayaraga kemudian.
"Sangatlah mungkin Ki Jayaraga."Sambil mengelus
jenggot tipisnya Kyai Gringsing melanjutkan,"ternyata Naga Kala Bhumi yang
menurut cerita Guruku tiba-tiba lenyap itu adalah kakek dari Sukra,Ki."
"Benar Kyai."Berkata Ki Jayaraga kemudian,"Kalau
kita runut memang sedikit banyak ada persamaan watak antara Sukra dan orang
yang bernama Naga Kala Bhumi itu Kyai."
Kyai Gringsing mengangguk-angguk membenarkan. Memang
sebenarnyalah sudahlah mulai terlihat watak angin-anginan dari Anak muda yang
benama Sukra itu.
Begitulah untuk selanjutnya pembicaraan kedua orang tua itu
berkisar antara Kitab Jaya Kurtuti dan orang yang bernama Naga Kala Bhumi.
Dan akhirnya ketika pembicaraan dirasa oleh Kyai Gringsing
telah cukup maka berkata Kyai Gringsing kemudian,"Ki Jayaraga,agaknya
sebentar fajar akan segera menjelang. Aku harus segera pergi Ki"
Ki Jayaraga menghela nafas perlahan. Rasanya pembicaraan
malam itu masih belum cukup mengobati rasa rindunya kepada sosok luar biasa di
hadapannya.
"Apa rencana Kyai Gringsing sebelum Kyai Sarwa Rupa
menyelesaikan pekerjaannya?" Bertanya Ki Jayaraga.
Sambil membenahi isi peti yang ada di hadapannya,Kyai
Gringsing menjawab,"Aku akan melihat-lihat padepokan kecilku di Jati Anom
barang sebentar Ki. Ki Widura mungkin perlu aku beri penjelasan seperlunya
sehubungan dengan amanah yang harus aku emban ini. Disamping itu,aku juga akan
melihat keadaan Swandaru Geni di Sangkal Putung." Kyai Gringsing menarik
nafas dalam-dalam. Memang setiap kali dia teringat muridnya yang satu itu,selalu
ada rasa prihatin yang mendalam di hatinya.
Ki Jayaraga pun mengerti apa yang dirasakan Kyai Gringsing.
"Baiklah Ki Jayaraga,aku mohon diri. Dilain
waktu,mungkin aku memerlukan bantuan Ki Jayaraga." Berkata Kyai Gringsing
sambil dikenakannya camping lebarnya kembali.
Kembali Ki Jayaraga merasakan rasa haru yang menyelimuti dada
nya.
"Silahkan Kyai. Mudah-mudahan segala urusan Kyai
dimudahkan oleh Yang Maha Agung." Setelah berkata demikian,Ki Jayaraga
memeluk erat Kyai Gringsing. Kyai Gringsing pun merasakan haru pula.
"Mudah-mudahan demikian Ki. Assalamu'alaikum "
tutup Kyai Gringsing.
'Wa'alaikum salam."
Ki Jayaraga menatap Kyai Gringsing yang melangkah perlahan
meninggalkan pategalan itu. Ki Jayaraga menghela nafasnya dalam-dalam.
Tidak berapa lama kemudian,Ki Jayaragapun telah pulang
beranjak pergi dari tempat itu.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 18 )
Sementara itu di rumahnya, Agung Sedayu yang telah selesai
dari munajat panjang sepertiga malamnya, perlahan melangkah keluar dari mushola
. Di hirup udara segar pagi itu dalam-dalam,sambil tak lupa hatinya terus
menerus melantunkan puja-puji atas Kebesaran Penguasa Hidupnya. Tanpa disadari
langkahnya mengantar ke depan sanggar. Sayup-sayup di dengarnya nafas memburu
dari dalam sanggar itu.
"Rupanya Sukra sepagi ini sudah berada di dalam
sanggar" bergumam Agung Sedayu. Di bukanya perlahan pintu sanggar itu.
"Ki Rangga" berkata Sukra yang segera menghentikan
gerak tubuhnya setelah tahu siapa yang berdiri di pintu sanggar.
"Teruskan Sukra"berkata Agung Sedayu yang kemudian
duduk di amben kecil di sudut sanggar.
"Baik Ki Rangga" menjawab Sukra dengan mata
berbinar penuh semangat.
Maka sejurus kemudian Sukra pun telah melanjutkan
gerakan-gerakan olah kanuragannya. Seperti yang telah diajarkan oleh Glagah
Putih,maka semua unsur-unsur gerak telah dapat dikuasainya dengan baik.
Agung Sedayu mengangguk-angguk melihat apa yang dilihatnya.
Dan memang sebenarnyalah Agung Sedayu pun menjadi kagum dengan kemantapan gerak
dari Sukra.
"Anak ini sangat berbakat."Bekata Agung Sedayu
didalam hati. "Apabila dia berada di tangan yang benar,tentu akan menjadi
seorang anak muda yang pilih tanding."
Beberapa saat berlalu,Sukra masih dengan penuh semangat
memainkan unsur-unsur gerak yang dipelajarinya. Namun beberapa saat
kemudian,dia telah sampai pada puncak penguasaan ilmu yang di serapnya dari
Glagah Putih. Perlahan-lahan gerakannya semakin melambat. Dan akhirnya pada
satu titik dia berhenti. Kemudian berdiri tegak,mengendapkan pernafasannya. Keringatnya
bagaikan diperas.
Agung Sedayu masih saja mengamati apa yang dilakukan Sukra.
Setelah dilihatnya pernafasan Sukra sudah semakin teratur,maka Agung Sedayupun
menghampiri Sukra.
Sambil tersenyum di tepuknya pundak Sukra "Bagus Sukra.
Aku yakin,kamu akan menjadi laki-laki
yang pilih tanding."
"Mohon restu Ki Rangga,"menjawab Sukra dengan
menundukkan wajahnya. Ada sebersit rasa bangga didadanya. Tapi dia tahu
benar,bahwa apa yang dikuasainya belumlah sekuku ireng nya Ki Rangga Agung
Sedayu yang menurut cerita banyak orang ilmu nya menggapai langit.
"Teruslah berlatih dan berlatih Sukra. Tapi ingat
pesanku,akan selalu ada langit di atas langit. Jangan pernah merasa jumawa
dengan apa yang kamu miliki." Bertutur Agung Sedayu.
"Karena kesombongan hanya akan menghancurkan diri
sendiri"
Sukra masih tetap menundukkan wajahnya. Di perhatiakan
benar-benar semua nasehat dari orang yang sangat di hormati dan di kagumi itu.
"Sukra,"maka Agung Sedayu melanjutkan,"tahukah
kamu apa itu kesombongan?"
Sukra mengangkat wajahnya sebentar. Dicari nya jawab di mata
Ki Rangga Agung Sedayu. "Belum Ki Rangga" mendesis lirih Sukra
menjawab,dan kembali ditundukkan wajahnya.
"Kesombongan itu adalah sikap merendahkan orang lain dan
menolak kebenaran. Itulah makna kesombongan."
Semakin dalam Sukra menundukkan wajahnya. Diresapinya
nasehat-nasehat Agung Sedayu. Dia berjanji dalam hati,akan selalu mengingat dan
melaksanakan nasehat-nasehat itu. "Aku mohon doa restu dari Ki
Rangga" kembali bibir Sukra mendesis lirih.
Demikianlah,tidak lama berselang sayup-sayup Adzan Subuh
berkumandang dari Masjid induk Perdikan Menoreh. Mengalun indah menembus
dinding-dinding rumah penghuni Perdikan Menoreh. Memanggil setiap jiwa-jiwa
yang tunduk pada Kebesaran Penguasa
Subuh.
"Bersihkan badanmu Sukra. Aku tunggu di mushola."
Berkata Agung Sedayu kemudian. Kembali ditepuknya pundak kokoh anak muda itu.
"Baik Ki Rangga" bergegas Sukra keluar dari sanggar
menuju pakiwan.
Sementara itu,Agung Sedayupun juga segera beranjak menuju
Mushola kecil di samping rumahnya.
Demikianlah,pagi itu seperti pagi-pagi yang telah lewat.
Mentari tampak malu-malu bangun dari peraduan malamnya. Kokok ayam jantan
seolah turut serta mengagungkan Kebesaran Yang Maha Kuasa. Didapur-dapur setiap
penghuni tanah Perdikan itu telah pula mengepulkan asap tanda di mulainya
kehidupan hari itu.
Sementara itu,di seberang Kali Praga terlihat seorang
bercaping lebar berjalan dengan tenang. Di pundaknya tergantung sebuah kampil
perbekalan perjalanan.
"Mudah-mudahan,sebelum tengah malam aku sudah tiba di
Jati Anom."Bergumam orang bercaping lebar yang ternyata adalah Kyai
Gringsing.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 19 )
Begitulah di pagi buta itu Kyai Gringsing melanjutkan
perjalanannya menuju Padepokannya yang berada di Jati Anom.
Hingga menjelang tengah hari, tibalah Kyai Gringsing di
sebuah padukuhan yang cukup ramai.
"Ada baiknya aku singgah sebentar di padukuhan ini.
Mudah-mudahan tidak ada yang mengenali aku di sini."Bergumam Kyai
Gringsing.
Tibalah Kyai Gringsing di sebuah pasar yang lumayan ramai.
Memang sebenarnyalah hari itu adalah hari pasaran. Kyai Gringsingpun memasuki
sebuah kedai yang berada di sudut pasar. Sengaja dia memilih kedai yang sepi
dari pengunjung.
Setelah memberi salam kepada pemilik kedai dan memesan
makanan,Kyai Gringsing pun duduk di sudut kedai. Diamatinya setiap sudut
kedai,dan memang hanya ada beberapa pembeli. Pemilik kedai itu adalah seorang
perempuan tua yang di bantu seorang gadis kecil berumur belasan tahun. Memang
kedai itu terkesan agak kumuh. Mungkin karena itulah maka jarang pengunjung
yang singgah. Tapi ada yang sedikit aneh menurut panggraita Kyai Gringsing.
Dilihatnya perempuan tua pemilik kedai itu masih tampak gesit meskipun
ketuannya sudah sangat tampak.
"Kelihatanya wanita tua itu bukan seperti wanita pada
umumnya." membatin Kyai Gringsing.
Dan tidak lama berselang,hidangan pesanan Kyai Gringsing pun
telah diantar oleh gadis kecil itu.
"Silahkan Ki Sanak,"sapa ramah gadis kecil itu
kemudian,"mohon maaf kalau sekiranya ki sanak terlalu lama menunggu."
"Terimakasih Nduk. "Menjawab Kyai Gringsing.
Termangu Kyai Gringsing menatap wajah gadis kecil itu. Wajah yang bersih
berpipi kemerahan dengan sepasang mata sipit namun jernih dan sinar yang tajam. Sangat jelaslah bagi pandangan seorang
Kyai Gringsing,bahwa gadis kecil itu seorang yang sangat cerdas. Tidak bisa di
pungkiri,terheran Kyai Gringsing menyaksikan semuanya.
"Apakah ada yang aneh dengan diriku Ki Sanak"
bertanya gadis kecil itu tiba-tiba sambil tersenyum.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar pertanyaan yang
polos tanpa malu-malu dari gadis kecil itu.
"Tidak Nduk. Siapa namamu Nduk?" Bertanya Kyai
Gringsing kemudian.
"Pusari, Ki Sanak" jawabnya singkat dengan
tersenyum pula "Baiklah Ki Sanak,aku mohon diri. Kelihatanya biyung
memerlukan kembali bantuanku." Tanpa menunggu jawaban dari tamunya
bergegas Pusari menuju dapur kedai kecil itu. Sementara itu,sambil menikmati
makanannya Kyai Gringsing sengaja mempertajam pendengarannya. Dia ingin tahu
apa yang kira-kira diperbincangkan Pusari dengan biyungnya di dapur.
"Apa yang kamu perbincangkan dengan tamu kita itu tadi
Pusari"bertanya biyungnya.
"Seperti biasa biyung."
Tertawa perlahan wanita tua itu mendengar jawaban dari
Pusari. Dilihatnya sepintas raut muka cucu nya itu. Kembali wanita tua itu
tertawa perlahan dan berkata. "Jangan cemberut begitu Pusari."
"Kenapa hampir setiap tamu yang baru pertama singgah di
kedai kita selalu menatap ku dengan aneh biyung?"bertanya Pusari dengan
bibir bersungut.
Kembali wanita tua itu tertawa," Memang bentuk wajahmu
dan kedua matamu akan selalu menimbulkan tanya Nduk." Terang wanita tua
itu dengan tangannya tetap sibuk menyiapkan beberapa pesanan.
"Sudahlah,sebaiknya kamu antar pesanan ini untuk tamu kita yang lain
sebelum mereka menunggu terlalu lama."
Tanpa berkata sepatah katapun Pusari segera beranjak
mengantar pesanan yang telah disiapkan biyungnya.
"Silahkan paman,mohonmaaf kalau terlalu lama
menunggu."Berkata Pusari kepada laki-laki setengah baya yang terlihat
muram wajahnya.
"Terimakasih Pusari." Jawab laki-laki itu singkat
sambil menghela nafas. Pusari tidak segera beranjak dari tempat berdirinya.
Diamatinya sekilas wajah laki-laki setengah baya itu.
Tiba-tiba Pusari bertanya,"Apakah Paman Wirya sedang ada
masalah?"
Tersenyum getir laki-laki yang dipanggil Paman Wirya itu.
Dihelanya nafasnya kembali. "Tidak ada Pusari. Apakah biyungmu tidak
sedang membutuhkan bantuan kamu?"
"Pesanan semua tamu sudah aku antarkan paman"
menjawab Pusari. "Paman wirya,aku mendengar apa yang kemarin paman
bicarakan dengan biyung. Apakah karena itu paman kelihatan murung?" Belum
juga hilang rasa ingin tahu gadis kecil itu.
Termangu orang yang di panggil Paman Wirya itu. Untuk kesekian kalinya dihela nafasya
dalam-dalam seolah ingin melepaskan beban yang sangat berat di dadanya.
"Duduklah Pusari,"berkata paman wirya selanjutnya.
Pusari pun duduk disamping laki-laki itu.
"Pusari,kamu masih terlalu kecil untuk tahu
masalah-masalah orang tua Nduk." Dihirupnya wedang sere dihadapnnya.
"Ah paman."Bersungut wajah Pusari mendengar
perkataan laki-laki itu. "Aku memang masih kecil paman,tetapi biyung
selalu mengajarkan kepadaku untuk bisa belajar bersikap dewasa."
Tertawa tertahan laki-laki yang di panggil paman Wirya itu.
"Baiklah Pusari." Laki-laki itu melanjutkan setelah
menyuapkan makanan di mulutnya.
"Mungkin aku harus segera meninggalkan padukuhan ini
Nduk."
Berkerut kening Pusari mendengar perkataan laki-laki itu.
Belum sempat Pusari bertanya,laki-laki itu melanjutkan,"Rumah itu harus
sudah aku kosongkan dalam dua hari ini."
"Apakah Paman Rumeksa tidak memberi waktu lagi kepada
Paman Wirya?" Bertanya Pusari.
"Aku sudah berusaha meminta waktu kembali untuk melunasi
hutang-hutangku Nduk."Dihela nafasnya dalam-dalam.
"Apakah anak laki-laki paman yang di kota raja masih
juga tidak mau membantu kesulitan paman?"Bertanya Pusari kemudian.
"Entahlah Nduk, karena bukanya dia tidak tahu
kesulitanku. Tapi sudahlah Nduk. Sebaiknya aku tidak mengganggu anakku."
Berkata paman wirya itu perihatin.
"Kalau saja aku masih mempunyai orang tua,tentu aku akan
selalu membantu kesulitan keduanya."Tiba-tiba mata Pusari meredup.
Termangu laki-laki yang dipanggil paman Wirya itu mendengar
perkataan Pusari.
"Pusari,suatu saat kamu akan bertemu dengan ke dua orang
tuamu Nduk."
Pusari menundukkan wajahnya. Terlihat kerinduan yang dalam
akan kehadiran kedua orang tuanya yang belum pernah sekalipun dia temui.
"Mereka berdua sekarang entah dimana
paman."Dilemparkanya pandangan Pusari keluar kedai. Tampak duka yang
semakin dalam di mata indah itu.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 20 )
Memang sebenarnyalah Pusari belum sekalipun bertemu dengan ke
dua orang tuanya. Menurut cerita biyungnya,Pusari masih sangat kecil ketika
ditinggal pergi oleh ke duanya. Dan sampai saat ini pun Pusari belum tahu
kenapa ke duanya pergi dan kemana perginya.
Wajah gadis kecil itu semakin menunduk dan tanpa di sadari,
air matanya mengembang di kedua pelupuk mata jernih itu. Tergesa dihapus air
matanya.
"Paman,suatu saat aku akan pergi mencari ke
duanya."Berkata Pusari kemudian dengan mata kembali bersinar penuh
keyakinan.
Laki-laki yang dipanggil Paman Wirya itu tersenyum haru.
Ditepuknya bahu Pusari pelan,"Kamu pasti akan bisa bertemu dengan ke dua
orang tua mu Nduk."
Pusari pun tersenyum memperlihatkan gigi putih nan rapi.
"Mohon doanya Paman." Menjawab Pusari dengan mata berbinar riang.
"Baiklah Paman,aku harus membereskan meja-meja itu
dulu."
"Silahkan Nduk. Aku juga sudah selesai ." Laki-laki
itu juga segera berdiri dari tempat duduknya.
Sementara itu di sudut yang lain,semua pembicaraan Pusari
tidak luput dari pendengaran Kyai Gringsing.
"Siapa sebenarnya gadis itu dan siapa pula ke dua orang
tuanya?"Membatin Kyai Gringsing.
Tiba-tiba Kyai Gringsing terkejut dengan apa yang di saksikannya.
Tampak Pusari dengan sapu lidi di tangannya seperti memainkan sebuah
jurus-jurus pedang. Sambil tersenyum-senyum gadis itu terus memain-mainkan sapu
lidinya. Pusari tidaklah menyadari apabila yang dilakukannya menarik perhatian
Kyai Gringsing.
"Subhanallah,itu jurus pedang Naga Kuning" berdebar
dada Kyai Gringsing. "Rupanya benar dugaanku,gadis itu bukanlah keturunan
orang jawa dwipa."Membatin Kyai Gringsing,takjub.
"Lalu siapa perempuan yang di panggil biyung
itu,"berkerut dahi Kyai Gringsing.
"Pusari!" Tiba-tiba wanita tua yang dipanggil
biyung oleh Pusari memanggil.
"Iya biyung,"jawab Pusari dan segera menghampiri
biyungnya.
Kyai Gringsingpun kembali menunduk dan merendahkan caping
lebar nya yang telah dengan sengaja tidak dilepasnya.
Setelah dirasakan cukup,maka Kyai Gringsingpun telah berdiri
pula. Diambilnya beberapa keping uang dan kemudian berjalan menghampiri wanita
tua pemilik kedai. Diulurkannya beberapa keping uang itu kepada wanita tua yang
di panggil biyung. Tetapi tiba-tiba
wanita tua itu melangkah surut kebelakang melihat sekilas apa yang tergambar di
lengan Kyai Gringsing.Ditatapnya tajam-tajam laki-laki tua dihadapannya.
Dengan suara bergetar wanita itu bertanya,"Apakah aku
berhadapan dengan murid perguruan Windujati?"
Betapa terkejut Kyai Gringsing mendapat pertanyaan yang tidak
diduganya sama sekali itu.
"Pusari,segera kamu tutup kedainya, Nduk."Berkata
wanita tua itu tanpa menunggu jawaban Kyai Gringsing.
Dengan hati bertanya-tanya, cekatan Pusari segera melaksanakn
perintah biyungnya.
"Mohon maaf Ki Sanak,aku terpaksa menahan mu sebentar di
sini. Ada yang harus aku sampaikan kepadamu." Lanjut wanita tua itu.
Kyai Gringsing masih berdiri termangu. Sementara Pusari
kembali menghampiri biyung nya yang masih berdiri termangu pula.
"Silahkan duduk dulu Ki Sanak." Masih dengan suara
bergetar,wanita tua itu mempersilahkan Kyai Gringsing.
Kyai Gringsing menghela nafas perlahan dan tanpa berkata
sepatahpun dia telah duduk dibangku kedai itu kembali.
Wanita tua itupun duduk pula tak jauh dari tempat Kyai
Gringsing. Sementara Pusari menggelayut manja di lengan biyungnya dengan wajah
penuh rasa ingin tahu. Sesungguhnya memang baru sekali ini dia melihat
biyungnya terlihat sangat tegang.
Wanita tua itu menghela nafas dalam seolah ingin menghilangkan
ketegangan di dadanya.
"Ki Sanak."Lanjut wanita itu."Apakah benar aku
berhadapan dengan cucu dari orang yang bernama Windujati?"
Berdesir dada Kyai Gringsing. Diperhatikannya wajah wanita
tua itu. Dalam gurat-gurat ketuanya, wanita itu memang tidak jauh beda dengan
Pusari.
Semakin berdebar dada Kyai Gringsing,dihelanya nafas nya
dalam-dalam. Namun itu tak juga meredakan gejolak di dadanya.
Wanita tua itupun menunduk dalam-dalam.
Tiba-tiba wanita itu perlahan terisak "Maafkan aku
kakang" terbata wanita ituberkata.
Pusari yang tak juga mengerti apa yang terjadi,segera memeluk
biyungnya.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 21 )
Wanita tua itu tertunduk semakin dalam sementara isaknya
semakin terlihat.
Kyai Gringsing menghela nafas panjang,tapi tetap belum mampu
berkata-kata. Perlahan dilepaskannya caping dari kepalanya. Pusari tertegun
memandang wajah Kyai Gringsing. Wajah yang sangat teduh dengan sepasang mata
yang memancar tajam dalam gurat ketuaan yang sangat tampak.
Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya,tapi tidak berapa
lama dia menunduk kembali. Dadanya bergemuruh oleh sebuah rasa penyesalan yang
dalam. Sekilas nampak olehnya,wajah teduh itu sangat lah dikenalinya puluhan
tahun yang lalu. Seorang laki-laki muda berilmu tinggi yang sangat dikaguminya
ketika itu. Raden Surya Pamungkas.
Kyai Gringsing masih tak mampu berkata-kata. Ditariknya
nafasnya dalam-dalam. Perlahan di ambilnya sesuatu dari kampil lusuhnya. Sebuah
konde berwarna kuning keemasan. Diletakkannya konde itu di meja tepat dihadapan
wanita itu.
"Bing Hwa, benda ini masih selalu menyertai aku
."Berdesis Kyai Gringsing hampir tak terdengar.
Kedai itu semakin sunyi hanya terdengar isak tertahan dari
wanita itu.
Pusari yang tak juga bisa mengerti apa yang terjadi dan rasa
ingin tahunya telah membuatnya meraih tusuk konde kuning itu. Diamatinya benda
itu penuh keheranan.
"Biyung,bukankah biyungpun mempunyai tusuk konde seperti
ini?" Bertanya Pusari menjadi tidak sabaran.
Wanita yang di panggil Bing Hwa itu mengangkat wajahnya
perlahan. Dikumpulkannya semua keberanian pada dirinya. Ditatapnya laki-laki
tua dihadapannya. Segumpal rasa haru terasa menyesakkan dadanya.
"Aku mohon maafkan kesalahanku kakang."
Kyai Gringsing menghela nafas perlahan. "Sudahlah Bing
Hua,"berkata Kyai Gringsing kemudian."Tidak ada yang perlu dimaafkan.
Keadaanlah yang memaksa kita harus berpisah waktu itu."
"Iya Kakang." Perlahan wanita yang dipanggil Bing
Hua itu menjawab.
Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sudah tidak tampak
lagi ketegangan di wajahnya.
"Maaf Bing Hua,lantas siapa gadis kecil ini?"
Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
Wanita tua itu meraih Pusari kedalam pelukanya. Dibelainya
kepala bocah itu penuh rasa sayang dan berkata."Dia cucu Kakak Huang
Long,kakang. Sejak masih bayi aku yang mengasuhnya."
Kyai Gringsing menarik nafas dalam. Ada kelegaan luar biasa
di dadanya.
" Jadi dia cucu Naga Kuning" Kyai Gringsing berujar
pelan.
Wanita yang dipanggil Bing Hua itu tersenyum getir. Dia dapat
meraba apa yang terlintas di benak Kyai Gringsing.
"Kakang, aku masih memegang ikrar yang telah kita
ucapkan berdua. Jangan pernah ragukan aku tentang itu." Kembali Wanita itu
tertunduk dalam.
"Akupun demikian Bing Hua"berkata Kyai Gringsing
pelan penuh haru.
Tiba-tiba suasana hening kedai itu dipecahkan derai tawa nakal dari Pusari.
"Ooh, jadi Kakek ini adalah orang yang pernah Biyung
ceritakan padaku" berkata Pusari sembari berusaha melompat menjauh dari
wanita itu.
Rupanya Pusari masih kalah cekataan, cepat tangan wanita itu
meraih lengan Pusari,kemudian sebuah cubitan mendarat di paha Pusari.
Pusari pun terlonjak kesakitan.
"Sakit Biyung!" Seru Pusari manja dengan wajah
cemberut lucu.
Kyai Gringsingpun tak kuasa untuk menahan senyum nya. Senyum
kelegaan,senyum akan sebuah harapan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 22 )
Kyai Gringsing memandang wanita di depanya. Di antara
garis-garis ketuannya masih juga tampak di mata Kyai Gringsing sebuah pesona
yang menggetarkan dada nya.
"Bing Hua,sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga
Naga Kuning menghilang tanpa jejak sedikitpun?" Bertanya Kyai Gringsing
kemudian.
Wanita yang dipanggil Bing Hua itu menghela nafas perlahan.
"Seperti Kakang ketahui diakhir pemerintahan Sultan
Trenggana yang juga bernama Tung Ka Lo, terjadi perbutan kekuasaan." Mata
wanita itu menerawang.
"Kakak Huang Long yang merupakan pengawal setia dari
Pangeran Sekar telah ikut menanggung akibatnya."
Berkerenyit dahi Kyai Gringsing. "Apakah Huang Long pun
diburu sepeninggal Pangeran Sekar Seda Lepen?"
"Benar Kakang." Wanita itu kembali menghela nafas.
Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti. Memang
sebenarnyalah dia juga tahu apa yang terjadi waktu itu. Pemberontakan berbalas
pemberontakan,penghianatan diantara saudara semua demi sebuah kekuasaan.
Mungkin sudah menjadi garis takdir tanah Jawadwipa ini. Itulah mengapa,dia yang
juga mempunyai jalur keturunan Brawijaya memilih tidak mau ikut terlarut dalam
bermacam pertumpahan darah antar bangsa sendiri. Meskipun akhirnya diapun tidak
mampu untuk menghindar dari pusaran kemelut di Bumi Mataram.
Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.
"Kakang,"lanjut wanita itu."Karena kami tidak
ingin terus menerus hidup dalam ketidaktenangan,akhirnya kami lebih memilih
menyingkir."
Kembali Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti.
"Bing Hua, seperti pesan terakhir yang kamu
tinggalkan."Kyai gringsing menghela nafas kemudian melanjutkan," Kamu
mengatakan pergi ke barat. Karena itulah aku pun berusaha mencari jejakmu
sehingga sampailah aku di tlatah Bumi Mataran ini."
"Maafkan aku kakang," wanita itu menunduk.
Lanjutnya," Sebenarnyalah aku tidak pergi ke barat. Melainkan ke timur.
Kami menetap di pesisir timur tanah ini. Sampai akhirnya Kakak Huang Long pun
menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki."
Wanita itu kembali menghela nafas perlahan.
Mengertilah Kyai Gringsing kenapa sekian lama dia mengembara
di barat,dan tidak sekalipun menemukan jejak Naga Kuning dan Bing Hua, adik
perempuan Naga Kuning.
"Jadi kalian pergi ke pesisir timur." Berujar Kyai
Gringsing perlahan.
" Benar Kakang."
Sementara itu Pusari yang masih menggelayut manja di lengan
wanita itu,berusaha mengerti apa yang di bicarakan.
"Bing Hua,lantas kenapa kamu sampai di tempat ini?"
Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
"Karena Pusari lah aku sampai di tempat ini kakang.
Sebenarnyalah belum lama kami tinggal di Padukuhan ini." Menjawab wanita
itu dengan sedikit memberi isyarat kepada Kyai Gringsing.
Dengan panggraitanya yang tajam dan sedikit isyarat dari
Wanita itu,tahulah Kyai Gringsing apabila belum saatnya wanita itu menceritakan
semuanya dikarenakan adanya Pusari.
Kyai Gringsing mengangguk-angguk.
"Pusari bukankah sudah aku katakan,memuliakan tamu
adalah sebagian dari ajaran agamamu?" Suara wanita itu tiba-tiba meninggi.
Dipandanginya Pusari.
Pusaripun kembali terlonjak terkejut.
"Yah Biyung,aku masih ingin mendengar cerita
biyung," berkata Pusari dengan bibir cemberut. Tapi diapun mengerti maksud
Biyungnya.
Baik lah biyung." Katanya kemudian.
"Kakek,"bertanya Pusari dengan binar mata penuh
rasa hormat." Kakek mau minum apa?"
"Apa saja Ngger" jawab Kyai Gringsing singkat
sambil tersenyum.
Bergegas Pusari menuju dapur kedai itu. Dia tidak ingin
melewatkan cerita biyungnya. Dia ingin sekali mendengar biyungnya menceritakan
kemana kedua orang tuanya pergi. Kalau memang masih hidup,betapa inginnya dia
me$persembahkan baktinya,tetapi apabila sudah meninggal betapa inginnya dia
memeluk pusara kedua orang yang sangat dirindukannya itu.
(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 23 )
Tidak berselang lama setelah Pusari pergi ke dapur,maka Bing
Hua melanjutkan penuturannya.
"Sebenarnyalah ceritanya sangat panjang Kakang. Tapi
untuk singkatnya,aku telah mendapat kabar bahwa kedua orang tua Pusari berada
di wilayah barat ini. " Bing Hua menghela nafasnya perlahan.
"Karenanya beberapa purnama yang lalu,sepeninggal Kakak
Naga Kuning aku sengaja mengajak Pusari untuk pergi ke wilayah ini."
Berkerenyit dahi Kyai Gringsing.Kyai Gringsing pun menghela
nafas.
"Jadi Huang Long sudah meninggal?"
ى
Berkerenyit dahi Pusari. "Dimana kakek tinggal?"
Tertegun Kyai Gringsing mendengar perkataan itu. Setelah
sejenak terdiam,jawab Kyai Gringsing kemudian."Selama ini aku tinggal di
lereng Gunung Merapi,Pusari."
"Wah,aku akan sangat senang berada di sana kek."
Berseri-seri wajah Pusari mendengar jawaban Kyai Gringsing.
Kyai Gringsingpun tersenyum melihat wajah Pusari.
"Bing Hua"
"Panggil aku Humaira,kakang."Potong Bing Hua.
"Bukankah pnggilan itu yang dulu telah kakang berikan untukku?"
Kembali berdebar Kyai Gringsing mendengar perktaan wanita
itu.
"Baiklah Humaira, aku harus melanjutkan perjalanku.
Dalam dua atau tiga hari ini aku akan kembali ke sini." Berkata Kyai
Gringsing kemudian.
Kyai Gringsingpun segera mengambil kampil lusuhnya kemudian
di sangkutkan di pundaknya.
Sesaat kemudian,Kyai Gringsingpun telah beranjak dari
duduknya. Diikuti oleh wanita tua yang oleh Kyai Gringsing dipanggilnya Humaira
itu.
"Berhati-hatilah Kakang. Aku akan menunggumu."
Bergetar suara Nyai Humaira. Sesuatu yang sangat berat telah menindih dadanya.
Kyai Gringsingpun hanya bisa mengangguk. Didekatinya Pusari
dan di usapnya kepala gadis kecil itu.
"Pusari,jaga biyungmu baik-baik ya."
Pusaripun mengangguk.
"Selamat jalan Kek." Lirih bergumam Pusari.
"Assalamu'alaikum" berkata Kyai Gringsing sebelum
dilangkahkan kakinya.
"Wa'alaikum salam" hampir bersamaan Nyai Humaira
dan Pusari menjawab.
Begitulah akhirnya Kyai Gringsingpun melangkah meninggalkan
tempat itu. Tempat yang akan selalu menjadi catatan tersendiri di saat-saat
senjanya. Tempat yang telah kembali mengembalikan harapan yang terpendam
puluhan tahun. Hidup bersama dengan wanita yang sangat dicintainya.
--