Minggu, 22 Mei 2016

TANAH LELUHUR


TANAH LELUHUR
   
\



NAMA           :ANAS AL ATSARY
NO               :2
KELAS                   ;8A1
"Kyai" lanjut Sunan Muria yang juga bernama Raden Umar Syahid kemudian,"masih ingatkah dulu sebelum Kyai pergi menyepi di tempat ini?"
Kyai Gringsing mengangguk perlahan. Kembali ingatanya melayang beberapa tahun yang lalu.

Ketika pada suatu malam dalam kondisi tubuhnya yang lemah karena beberapa lama sakit,selepas melaksanakan munajat sepertiga malamnya Kyai Gringsing  mendengar suara bisikan yang sangat halus namun sangat jelas.
"Assalamu'alaikum Kyai." Sebuah suara seolah-olah bergulung-gulung di seputar telinganya.
Sebagai seorangberilmu tinggi meskipun dalam wadak lemahnya Kyai Gringsing tetaplah seorang yang pilih tanding.
"Alaikum salam ki sanak" jawab Kyai Gringsing dengan Aji Pamelingnya. Dikerahkannya aji panggraita nya kuat-kuat untuk mengetahui darimana arah suara itu.
Tapi Kyai Gringsing tidakjuga mampu menangkap akan kehhadiran orang di sekitar Padepokannya.
"Mohon maaf Kyai,tidak perlu Kyai  mencari keberadaanku saat ini."Kembali Kyai Gringsing mendengar suara itu,bahkan semakin dekat di telinganya.
Seolah tahu apa yang dilakukan Kyai Gringsing,suara itu kembali terdengar lembut namun sangat jelas di telinga Kyai Gringsing.
"Kyai,aku ingin meminta tolong kepada Kyai. Karena tidak ada yang aku anggap mampu mengemban amanah ini kecuali Kyai Gringsing."
Mengembun peluh di kening Kyai Gringsing di tengah dingin sepertiga malam yang buta itu.
"Ki Sanak,siapa ki sanak ini sebenarnya."Kembali Kyai Gringsing mengetrapka Aji Pamelingnya. Dengan tetap dalam duduk bersilanya dikumpulkan semua ingatan tentamg tokoh-tokoh berilmu sangat tinggi yang mungkin di kenali lewat suara nya.
Tersengar suara itu tertawa perlahan. Suara berat mengandung wibawa. "Kyai,sesungguhnya tidaklah penting siapakah adanya diriku.
Kyai,aku ingin meminta Kyai menemuiku di Pertapan Suralaya nanti tepat pada saat bulan penuh.
Kyai tidak perlu khawatir dengan lemahnya badan wadak Kyai. Aku akan memberikan beberapa butir ramuan yang dengan ijin Yang Maha Agung akan memulihkan segala rasa lemah yang Kyai rasakan."

Kyai Gringsing menghela napas dalam-dalam. Kemudia berkata tetap dengan Aji Pameling yang sengaja di trapkannya menyebar. Sehingga apabila pada saat itu ada seorang yang mampu menguasai Aji Pameling di sekitar padepokan orang bercambuk akan juga dapat menangkap Aji itu.
"Baiklah Ki Sanak. Aku yang berilmu sangat rendah ini memang tidak akan mampu mencari keberadaan Ki Sanak saat ini. Mudah-mudahan Yang maha Kuasa mengijinkan kita utk bertemu nanti di saat bulan purnama telah penuh."
Kembali terdengar suara tawa perlahan. "Baiklah Kyai,sampai jumpa nanti di bulan purnama penuh di Suralaya. Di depan pintu pendapa aku telah meletakkan ramuan yang harus segera Kyai minum." Setelah terasa hening beberapa saat,kembali suara itu terdengar."Aku mohon diri Kyai. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam warahmatullah." Desis perlahan Kyai Gringsing tidak lagi dengan Aji Pameling.

Perlahan Kyai Gringsing beranjak dari pembaringannya. Berjalan dia menuju pintu pendapa Padepokannya. Dibukanya pintu itu,dan benarlah adanya tepat di depan pintu ditemuinya sesuatu berbungkus kain wulung.
Terkesiap Kyai Gringsing melihat pembungkus benda itu. "Kanjeng Sunan Kalijaga."


Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 05 )

  Perlahan Kyai Gringsing memungut benda itu dengan kedua tangannya dengan tanpa bermaksud mengagungkan keberadaan kain wulung pembungkusnya,karena bagi Kyai Gringsing tidak ada yang pantas di agungkan kecuali Sang Pemilik Jiwanya. Tapi semata-mata rasa hormat yang dalam kepada pemilik kain wulung itulah,maka Kyai Gringsing membawa ramuan berbungkus kain wulung itu dengan sangat hati-hati.

"Siapapun orang yang meletakkan kain wulung ini di depan pintu pendapa padepokanku,orang itu benar-benar berilmu sangat tinggi."Berkata Kyai Gringssing tanpa bermaksd menyombongkan ilmu nya.
"Tidak ada sekuku irengnya segala kemampuan yang aku miliki. Tapi bukankah Kanjeng Sunan Kalijaga sudah mangkat beberapa tahun yang lalu?"Bertanya Kyai Gringsing seolah kepada dirinya.

Kyai Gringsing larut dalam pertanyaan yang masih belum juga dia dapatkan jawabannya.
"Biarlah nanti di saat bulan purnama penuh semua teka teki ini terjawab. Aku akan segera meminum ramuan ini seperti yang telah dipesankan orang itu kepadaku"
 Dibukanya ikatan kain wulung itu. Dilihatnya di dalamnya tiga butir ramuan dengan tiga warna berbeda pula.
"Luar biasa."Ucapnya setelah tahu ramuan itu.

Sebagai seorang yang ahli dalam ilmu pengobatan,Kyai Gringsing tahu betul jenis dan kasiat ramuan itu. Kyai Gringsing juga tahu pasti betapa saat ini sudah tidak mungkin lagi dia dapat membuat ramuan itu dikarenakan bahan pembuat ramuan itu sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada,maka bahan itu sudah sangat langka.
"Agaknya aku harus membangunkan Ki Widura untuk membantuku meminum ramuan ini "membatin Kyai Gringsing.
Dengan tubuh yang masih sangat lemah Kyai Gringsing berjalan pelan menuju bilik Ki Widura yang berada tidak jauh dari bilik yang di tempati para cantrik penghuni Padepokan orang bercambuk.
Sementara itu di dalam biliknya, Ki Widura yang memiliki pendengaran terlatih meskipun belum sampai pada tataran seperti Agung Sedayu apalagi Kyai Gringsing,sudah dapat pula merasakan langkah orang mendekati biliknya.
Bergegas Ki widura turun dari pembaringnnya.
"Kyai Gringsing?" Tahulah KiWidura siapa yang di pagi buta itu mendekati biliknya dari langkah yang dia dengar.

Tergopoh dibuka pintu biliknya,terlihat Kyai Gringsing melangkah mendekati bilik.
"Assalamu'alaikum Ki Widura"sapa Kyai Gringsing kemudian.
"Alaikum salam Kyai." Disambutnya Kyai Gringsing. Diraihnya tangan lemah Kyai Gringsing dan kemudian dibimbingnya Kyai Gringsing duduk di amben kecil di depan bilik Ki Widura."Silahkan Kyai."Berkata Ki Widura kemudian.

Dibiarkanya Kyai Gringsing mengatur nafas nya sebentar. Tampak sekali wajah letih dari Kyai Gringsing.
"Ki Widura,maaf apabila aku mengganggu istirahat Ki Widura di pagi buta ini"berkata Kyai Gringsing setelah nafasnya tidak lagi memburu saling berebut dahulu keluar dari jalan pernafasanya.

"Tidak mengapa Kyai. Sebenarnya lah biasanya aku pun juga sudah terbangun di pagi seperti ini."Berkata Ki Widura kemudian.
"Kyai,ada apa kiranya sepagi ini Kyai sudah menemuiku di sini. Keadaan Kyai masih sangat lemah,seharusnya tidak lah banyak bergerak terlebih dahulu."Berucap Ki Widura setelah juga duduk di amben itu pula.

Kyai Gringsing menghela nafas perlahan,kemudian berkata. "Justru karena keadaankulah ini Ki Widura,aku harus menemui Ki Widura secepatnya."
Kemudian Kyai Gringsing menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.
Berdebar Ki Widura mendengar cerita Kyai Gringsing.

"Subhanallah,"berkata Ki Widura kemudian dengan takjub.
"Siapakah orang itu sebenarnya. Sampai-sampai Kyai Gringsing yang berilmu sangat tinggi pun tidak mampu mengetahui kehadiranya"membatin Ki Widura.

"Kalau demikian,marilah Kyai segera meminum ramuan itu. Biar aku siapkan semuanya."Setelah berkata demikian Ki Widura segera beranjak pergi untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan Kyai Gringsing.
Sejurus kemudian setelah siap,berkataKyai Gringsing kepada Ki Widura."Ki Widura,tolong antar ke bilik ku. Agaknya aku memerlukan waktu beberapa saat untuk benar-benar bisa menyerap kasiat ramuan ini."

"Mari Kyai"
Tak seberapa lama di dalam bilik, Kyai Gringsing sdh bersiap. Di raihnya butir ramuan yang berwarna merah kehitam hitaman.
"Ki Widura,apapun yang nanti Ki Widura saksikan atas ku,aku mohon Ki Widura tidak perlu kawatir." Pesan Kyai Gringsing.

"Baik Kyai"singkat Ki Widura menjawab meskipun bagaimanapun kecemasan tetaplah membayang di wajahnya.

Sejenak bilik itu dilanda sunyi yang sangt. Tiba-tiba tak beberapa lama setelah Kyai Gringsing meminum ramuan itu,tubuh tua Kyai Gringsing menggigil. Ki Widura yang berdiri di samping pembaringan Kyai Gringsing semakin cemas melihat itu.
Tubuh Kyai Gringsing semakin menggigil dan bergetar hebat. Nafasnya memburu.
Dan,betapa terkesiapnya Ki Widura kemudian melihat dari tubuh Kyai Gringsing keluar cahaya kemerah-merahan menyelimuti seluruh tubuh Kyai Gringsing.
"Allahu Akbar" tertahan Ki Widuran terpekik.


Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 06 )

    Cahaya kemerahan itu untuk beberapa saat membuat bilik itu seperti membara. Ki Widura termangu-mangu takjub dengan apa yang dilihatnya. Tak henti-hentinya bibirnya mengangungkan Penguasanya.

Sementara itu tubuh Kyai Gringsing perlahan lahan terlihat tidak lagi menggigil. Begitupun cahaya kemerahan yang menyelimuti tubuh tua itu perlahan meredup. Pernafasan Kyai Gringsing pun perlahan-lahan mulai nampak teratur kembali.
Untuk beberapa saat bilik itu sunyi,hanya terdengar suara nafas Kyai Grinsing yang mengalir ringan dari jalan nafasnya.

Ki Widura pun menjadi berkurang rasa cemasnya melihat keadaan Kyai Gringsing yang mulai nampak segar kembali.
Dikeremangan temaram lampu teplok,dilihatnya Kyai Gringsing perlahan membuka matanya.

"Alhamdulillah,"berdesis perlahan bibir Kyai Gringsing.
Perlahan Kyai Gringsing bersujud di atas pembaringan sebagai rasa sukur nya yang tiada tara.

Tidak lama setelah hanyut dalam sujud sukurnya berkata Kyai Gringsing kemudian. " Ki Widura, sungguh betapa Yang Maha Agung telah memberiku kenikmatan yang tiada terkira."
Sambil mengusap peluh yang mengembun di dahi nya, Kyai Gringsing melanjutkan.
"Rasanya tubuhku menjadi jauh lebih baik saat ini"

"Sukurlah Kyai." Mata Ki Widura berkaca-kaca tidak kuasa menyembunyikan rasa haru melihat apa yang terjadi pada Kyai Gringsing yang juga adalah guru nya itu.

"Ki Widura,aku minta tolong Ki Widura untuk merahasiakan semua yang terjadi ini. Kepada siapapun,termasuk juga kepada Agung Sedayu."
Ki Widura pun mengganguk mengerti.
"Baik Kyai"

"Ki Widura,selanjutnya aku akan pergi ke sanggar. Jangan ada satupun yang boleh masuk ke sanggar sampai aku keluar.
Nanti selepas waktu Dhuha,aku minta Ki Widura untuk membantuku di dalam sanggar." Setelah berhenti sebentar,berkata Kyai Gringsing." Baiklah Ki,aku segera akan ke Sanggar."

"Silahkan Kyai."

Begitulah,suasana padepokan orang bercambuk pagi itu tetap seperti biasanya. Para mentrik dan cantrik tetap pada pekerjaannya masing-masing tanpa tahu apa yang telah terjadi dengan Kyai Gringsing.
Mereka hanya tahu bahwa Guru mereka Kyai Gringsing sedang berada di Sanggar dan tidak diperbolehkan siapapun untuk masuk ke sana kecuali Ki Widura sendiri.

Maka ketika tiba waktu Dhuha seperti pesan Kyai Gringsing,Ki Widurapun telah berada pula di dalam sanggar.
Setelah semua di siapkan, dengan sikap duduk bersila Kyai Gringsing mengambil ramuan berwarna hijau kekuningan. Tidak seperti waktu meminum ramuan yang berwarna merah tadi di waktu pagi buta, maka yang terlihat dari tubuh Kyai Gringsing seolah tidak ada perubahan sama sekali.
 Hanya beberapa saat,Kyai Gringsing telah kembali membuka matanya.
Ki Widura pun tidak mengungkapkan keheranannya.
Namun seolah tahu apa yang terpikir oleh Ki widura maka Kyai Gringsing berkata,"ketahuilah Ki. Ramuan ini ada lah ramuan utk mendukung ramuan yang terakhir nanti tengah malam yang harus aku minum."

Mengangguk mengerti Ki widura dengan penjelasan itu.
"Apa yang akan terjadi setelah Kyai meminum ramuan yang terakhir itu?"Bertanya Ki Widura.

Kyai Gringsing menghela nafas perlahan."Ramuan ini adalah ramuan racikan Kanjeng Sunan Kalijaga yang tiada duanya.
Menurut cerita yang aku dengar dari Guruku ramuan langka ini akan membuat tenaga cadangan orang yang meminumnya menjadi berlipat."

"Subhanallah" takjub Ki Widura mendengar penjelasan itu.

"Baiklah Ki,"berkata Kyai Gringsing kemudian,"Nanti menjelang tengah malam, Ki Widura aku minta kembali ke sanggar ini"

"Sungguh suatu kehormatan bagiku Kyai"

Begitulah,waktu berjalan hari itu serasa menjadi sangat lama bagi Ki Widura. Berdebar dadanya menanti apa yang akan terjadi dengan Gurunya.
Dia tidak lagi dpt membayangkan,akan seperti apa tinggi dan dalamnya ilmu kanuragan dari Kyai Gringsing.
"Mungkin hanya pemilik ramuan itu saja yang akan mampu mengimbangi ilmu Kyai Gringsing" desis Ki Widura.

Akhirnya menjelang tengah malam itu tiba. Ki Widura bergegas menemui Kyai Gringsing di sanggar. Tidak lupa telah disiapkan segala sesuatu yang nanti akan dibutuhkan Kyai Gringsing seperti yang telah dipesankan Kyai Gringsing.
"Mari Ki Widura."Sambut kyai Gringsing yang telah bersiap duduk di tikar pandan tepat di tengah-tengah sanggar itu.
"Ki Widura,sekali lagi aku pesankan kepada Ki Widura. Apapun yang nanti akan Ki Widura saksikan,jangan sekalipun menceritakan kepada siapapun."

"Baik Kyai. Akan aku jaga amanah dari Kyai." Menjawab Ki Widura

"Terimakasih Ki" berkata Kyai Gringsing kemudian,"Saatnya telah tiba Ki. Aku akan meminum ramuan terakhir ini."
Tergesa Ki widura menyiapkan sesuatunya.

"Silahkan Kyai"berdebar dada Ki Widura.

"Mohon maaf Ki widura,sekedar berjaga-jaga. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Karena itu,aku persilahkan Ki Widura agak menjauh dari tempatku duduk." Sedikit cemas Kyai Gringsing berpesan.

"Baik Kyai"
Begitulah,setelah segala sesuatunya telah siap,Kyai Gringsing meminum ramuan terakhir yang berwarna biru terang.
Dipejamkan kedua matanya,sementara tanganya dilipat didepan dada.
Diperhalusnya aliran pernafasan. Dirasakan oleh Kyai Gringsing aliran darahnya perlahan-lahan bertambah cepat.
Sementara itu,Ki Widura yang duduk bersila agak menjauh dari Kyai Gringsing melihat sinar kebiruan yang mulai keluar dari tubuh Kyai Gringsing.
Seiring dengan itu,udara di sekitar tempat Kyai Gringsing duduk semakin lama semakin dingin. Bertambah terang sinar biru itu,bertambah dingin pula udara di sekitar Kyai Gringsing.

"Subhanallah, Allahu Akbar" berkata Ki Widura dalam ketakjupan.

   Termangu mangu Ki Widura menyaksikan apa yang terjadi dengan Kyai Gringsing. Sebenarnyalah dengan sengaja Kyai Gringsing telah mencoba ilmu meringankan tubuhnya. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh ramuan biru itu terhadap meningkatnya ilmu meringankan tubuhnya.
 Yang terjadi kemudian telah membuat Ki Widura seperti bermimpi.
Tubuh Kyai Gringsing yang masih di selimuti sinar Biru terang itu perlahan-lahan telah terangkat naik.

"Luar Biasa"berkata Ki Widura penuh ketakjuban.
Dilihatnya tubuh kyai Gringsing melayang tenang di tengah-tengah ruangan sanggar itu.

Setelah beberapa lama melayang-layang di udara,tubuh Kyai Gringsing perlahan turun dan kembali ke tempat awal dia duduk bersila.
Seiring dengan itu pula sinar biru yang menyelimuti tubuh kyai gringsing perlahan meredup dan akhirnya hilang.
Ki Widura menarik napas dalam-dalam untuk melepaskan segala ketegangan di dadanya. Tak henti bibirnya memuji Yang Maha Kuasa.
"Kemarilah Ki Widura,"berkata Kyai Gringsing setelah dia mengakhiri munajadnya.
Ki Widura pun perlahan menghampiri Kyai Gringsing dan kemudian duduk bersila di hadapan Kyai Gringsing.

"Ki widura,"katanya kemudian
"Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Itulah kasiat dari ramuan yang terakhir aku minum tadi."Kyai Gringsing menghela napas perlahan.
"Semua yang Ki Widura saksikan bukanlah ilmu sihir atau yang sejenis itu. Semua adalah karena olah pernapasan yang dengannya terbuka simpul-simpul syaraf paling kecil dari wadakku dengan bantuan ramuan itu." Urai Kyai Gringsing.

Ki Widura menganggu-angguk mengerti. "Ya Kyai. Aku merasa sangat terhormat bisa menyaksikan ini semua" bergumam Ki widura pelan.
Sekilas di pandanginya wajah Kyai Gringsing. Tampak oleh Ki Widura,wajah itu demikian segar bahkan jauh lebih segar dibandingkan ketika sebelum Kyai Gringsing sakit.
"Ki Widura,malam ini adalah malam Purnama Sidhi."Menerawang pandangan Kyai Gringsing seolah menembus batas-batas dinding sanggar itu.
"Besok adalah malam bulan purnama penuhh waktu dimana aku harus menemui orang yang telah memberiku ramuan itu di Suralaya." Kyai Gringsing berhenti sejenak.

"Benar Kyai."

"Aku tidak bisa menduga-duga apa yang akan orang itu sampaikan kepadaku."Kyai Gringsing menghela napasnya kembali.
"Tapi firasatku mengatakan,aku tidak akan kembali ke Padepokan ini lagi Ki Widura."

Terperanjat Ki Widura mendengar kata-kata Kyai Gringsing.
"Maksud Kyai?" Bertanya Ki Widura dengan dada berdebar.
"Entahlah Ki Widura"lanjut Kyai Gringsing kemudian. "Begitulah firasat yang aku rasakan. Karena itulah Ki Widura,aku ingin memberikan sesuatu kepada Ki Widura sebelum kepergianku ke Suralaya besok malam."
Setelah beberapa saat terdiam,Kyai Gringsing meraih sesuatu dari balik pinggangnya.
Sebuah cambuk berkarah baja telah berada di tangan Kyai Gringsing.
Ki Widura masih tertunduk dalam tanpa mampu berkata apa-apa.
"Ki Widura."Berkata Kyai Gringsing selanjutnya.
"Aku pecayakan cambuk ku ini kepada Ki Widura sebagai simbol kepercayaanku kepada Ki Widura untuk melanjutkan kepemimpinan padepokan Orang Bercambuk."
Bergetar dada Ki Widura mendengar kata-kata Kyai Gringsing.
Hanya sejenak dia mengangkat wajahnya memandang Kyai Gringsing kemudian menunduk dalam kembali.
"Ki Widura,panggil cantrik tertua sekarang. Biarlah dia menjadi saksi semuanya." Berkata Kyai Gringsing.

"Baik Kyai."

Maka selanjutnya,seorang cantrik tertua dari Perguruan Orang bercambuk telah berada pula di dalam sanggar itu.
Cantrik itu tidak tahu apa yang telah terjadi atas Kyai Gringsing. Dia masih mengira Guru nya itu dalam kondisi lemah karena ketuaanya.
"Ki Widura," kyai Gringsing kembali berkata setelah Ki Widura memanggil cantrik tertua padepokan.
"Terimalah cambuk ini."
Dengan tangan bergetar,diterimanya cambuk itu dengan kedua tangannya.
Nafas Ki Widura seolah tercekat di dada. Rasa haru yang sangat telah menghentak-hentak di hatinya.
"Agahan,kamu menjadi saksi atas apa yang terjadi malam ini." Berkata Kyai Gringsing kepada cantrik tertua itu.
"Baik Guru."Menjawab cantrik itu ikut merasakan keharuan yang sangat.
Sementara Ki Widura tak lagi mampu membendung air mata yang mengalir dari kedua matanya.
"Murid-muridku."Berkata. Kyai Gringsing selanjutnya,
"Sudah cukup aku membimbing kalian. Sudahh saatnya aku untuk menyerahkan kelanjutan perguruan ini kepada kalian.
Sampaikan salam dan maafku ku untuk semua orang-orang yang sangat aku sayangi."

"Kyai" Ki Widura semakin dalam larut dalam keharuannya.
Kyai Gringsing menghela nafasnya dalam-dalam.
Dibiarkannya Ki Widura dan Cantrik tertua itu untuk merenungi semua yang di katakannya.
Setelah itu,Kyai Gringssing kembali memberi pentunjuk-petunjuk apa yang harus Ki Widura lakukan atas Perguruan Orang Bercambuk.

Demikian lah,akhirnya pada malam itu semua kepemimpinan perguruan telah di serahkan kepada Ki Widura.
Pada malam berikutnya,seperti sudah di rencanakan, Kyai Gringsing telah bersiap untuk meninggalkan padepokan kecilnya.

Dengan di antar Ki Widura sampai di depan pintu regol padepokan,maka Kyai Gringsing pun telah benar-benar bersiap untuk pergi.
"Ki Widura." Berkata Kyai Gringsing sebelum dilangkahkan kakinya meninggalkan padepokannya.
"Sekali lagi aku pesankan kepada Ki Widura,untuk tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku." sejenak dihela nafasnya. Kyai Gringsing berkata selanjutnya," Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu kembali Ki Widura."

Kembali Ki Widura hanyut dalam rasa haru yang sangat.

"Kyai." Ditatapnya lekat-lekat Kyai Gringsing tanpa mampu berkata-kata lagi.

"Aku mohon diri Ki Widura. Selamat tinggal."Berkata Kyai Gringsing
" Assalamu'alaikum warahmatullah." Tutup Kyai Gringsing
"Wa'alaikum salam warahmatullah."
Sedikit terbata dijawabnya salam Kyai Gringsing.
Sejurus kemudian Kyai Gringsing telah melangkah pergi meninggalkan padepokan kecilnya.

"Selamat jalan Kyai."Perlahan bibir Ki Widura berdesis.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 08 )

   "Ehm."
Terperanjat Kyai Gringsing tersadar dari lamunan panjangnya mendengar Sunan Muria berdeham.
"Mohon maaf Kanjeng Sunan,"berkata Kyai Gringsing yang segera dapat menguasai perasaan harunya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu.
"Tidak mengapa Kyai." Sambil tersenyum Sunan Muria melanjutkan," Memang rasa rindu kita kepada orang-orang tercinta kadang membuat kita kehilangan sebagian kesadaran kita."      

Kyai Gringsing pun tersenyum mendengar perkataan Sunan Muria.
"Begitulah Kanjeng"

"Kyai" lanjut Sunan Muria kemudian," Ketika malam bulan purnama penuh di Suralaya sudah sedikit aku sampaikan pesan dari Ayahanda Sunan Kalijaga kepada Kyai."

Sebelum sempat Sunan Muria melanjutkan perkataanya,terdengar suara berdebum diikuti tanah yang bergetar keras.
Kedua orang berilmu sangat tinggi itu bertakbir bersama memuji Kebesaran Sang Penguasa Merapi.
Dengan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa,Sunan Muria melanjutkan.
" Kyai, sekarang saatnya telah tiba bagi Kyai untuk melaksanakan apa yang Ayahanda Sunan Kalijaga pesankan."

Ditariknya nafas dalam-dalam,kemudian Kyai Gringsing pun berkata pula, "Seperti kesedian ku waktu itu Kanjeng Sunan,Aku akan melaksanakan semua pesan Kanjeng Sunan Kalijaga sebatas kemampuan ku."

"Sebelumnya Aku atas nama Ayahanda Kanjeng Sunan Kalijaga mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kesediaan Kyai Gringsing." Setelah menghela nafas,Sunan Muria melanjutkan" Sebelum itu,biarlah aku ceritakan sedikit yang saya tahu tentang anak muda yang tinggal di rumah Ki Rangga Agung Sedayu."

"Sukra?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.

"Benar Kyai"
Sunan Muria menggeser posisi duduknya. Lanjutnya,"ketahuilah Kyai,beberapa puluh tahun yang lalu Ayahanda pernah bertempur mengadu kesaktian sebagai seorang ksatria dengan seorang yang berilmu tinggi di daerah Pegunungan Selatan di sekitar Petilasan Dlepih."
Berkerut kening Kyai Gringsing mendengar penuturan Sunan Muria.
"Siapa orang itu Kanjeng Sunan?" Bertanya Kyai Gringsing.

Sunan Muria menghela nafas perlahan. Selanjutnya berkata," Sayang Ayahanda tidak bersedia untuk mengatakan nama orang sakti itu Kyai."

"Lalu apa hubungannya denga Sukra,Kanjeng ?"

Berkata Sunan Muria melanjutkan,"Orang itu mempunyai seorang anak perempuan bernama Rara Widayanti."
"Rara Widayanti?" Kembali berkerut kening Kyai Gringsing.
"Benar Kyai. Dan Rara Widayanti itulah Ibu dari Sukra."Jelas Sunan Muria kemudian.

"Ibu dari Sukra?" Berkata Kyai Gringsing melanjutkan " Yang Aku tahu,ibu dari Sukra itu bernama Nyai Sarimah ,Kanjeng."

"Nama itu pemberian dari Ayahanda Sunan Kalijaga ketika Ayahanda menitipkan anak perempuan itu kepada Sepasang suami istri di Perdikan Menoreh Kyai."

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 08 )

   "Ehm."
Terperanjat Kyai Gringsing tersadar dari lamunan panjangnya mendengar Sunan Muria berdeham.
"Mohon maaf Kanjeng Sunan,"berkata Kyai Gringsing yang segera dapat menguasai perasaan harunya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu.
"Tidak mengapa Kyai." Sambil tersenyum Sunan Muria melanjutkan," Memang rasa rindu kita kepada orang-orang tercinta kadang membuat kita kehilangan sebagian kesadaran kita."      

Kyai Gringsing pun tersenyum mendengar perkataan Sunan Muria.
"Begitulah Kanjeng"

"Kyai" lanjut Sunan Muria kemudian," Ketika malam bulan purnama penuh di Suralaya sudah sedikit aku sampaikan pesan dari Ayahanda Sunan Kalijaga kepada Kyai."

Sebelum sempat Sunan Muria melanjutkan perkataanya,terdengar suara berdebum diikuti tanah yang bergetar keras.
Kedua orang berilmu sangat tinggi itu bertakbir bersama memuji Kebesaran Sang Penguasa Merapi.
Dengan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa,Sunan Muria melanjutkan.
" Kyai, sekarang saatnya telah tiba bagi Kyai untuk melaksanakan apa yang Ayahanda Sunan Kalijaga pesankan."

Ditariknya nafas dalam-dalam,kemudian Kyai Gringsing pun berkata pula, "Seperti kesedian ku waktu itu Kanjeng Sunan,Aku akan melaksanakan semua pesan Kanjeng Sunan Kalijaga sebatas kemampuan ku."

"Sebelumnya Aku atas nama Ayahanda Kanjeng Sunan Kalijaga mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kesediaan Kyai Gringsing." Setelah menghela nafas,Sunan Muria melanjutkan" Sebelum itu,biarlah aku ceritakan sedikit yang saya tahu tentang anak muda yang tinggal di rumah Ki Rangga Agung Sedayu."

"Sukra?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.

"Benar Kyai"
Sunan Muria menggeser posisi duduknya. Lanjutnya,"ketahuilah Kyai,beberapa puluh tahun yang lalu Ayahanda pernah bertempur mengadu kesaktian sebagai seorang ksatria dengan seorang yang berilmu tinggi di daerah Pegunungan Selatan di sekitar Petilasan Dlepih."
Berkerut kening Kyai Gringsing mendengar penuturan Sunan Muria.
"Siapa orang itu Kanjeng Sunan?" Bertanya Kyai Gringsing.

Sunan Muria menghela nafas perlahan. Selanjutnya berkata," Sayang Ayahanda tidak bersedia untuk mengatakan nama orang sakti itu Kyai."

"Lalu apa hubungannya denga Sukra,Kanjeng ?"

Berkata Sunan Muria melanjutkan,"Orang itu mempunyai seorang anak perempuan bernama Rara Widayanti."
"Rara Widayanti?" Kembali berkerut kening Kyai Gringsing.
"Benar Kyai. Dan Rara Widayanti itulah Ibu dari Sukra."Jelas Sunan Muria kemudian.

"Ibu dari Sukra?" Berkata Kyai Gringsing melanjutkan " Yang Aku tahu,ibu dari Sukra itu bernama Nyai Sarimah ,Kanjeng."

"Nama itu pemberian dari Ayahanda Sunan Kalijaga ketika Ayahanda menitipkan anak perempuan itu kepada Sepasang suami istri di Perdikan Menoreh Kyai."

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 10 )

     "Lantas apa yang Kanjeng Sunan Kalijaga pesankan untuk ku,kanjeng"bertanya Kyai Gringsing kemudian.

"Menurut panjangka Kanjeng Sunan Kalijaga"menjawab Sunan Muria kemudian,"Akan tiba saat dimana Bumi Mataram akan dipimpin seorang ksatria pinilih yang akan mempersatukan wilayah Jawadwipa ini."

Setelah menghela nafas,lanjunya kemudian "Untuk itulah Kyai,Ayahanda berharap ada anak turun Nyai Widayanti yang akan ikut memperjuangkan cita-cita ksatria itu."
Kyai Gringsing mulai bisa meraba kemana arah dari pesan Sunan Kalijaga.

"Apakah Aku harus mengangkat Sukra sebagai murid Kanjeng?"

"Tentu tidak harus Kyai mengangkatnya sebagai murid."Lanjut Sunan Muria.
"Tidak ada yang bisa memaksakan kepada Kyai mengangkat Sukra menjadi murid Kyai. Tidak juga Ayahanda Sunan."
Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti.
"Ayahanda hanya menginginkan Kyai Gringsing untuk meletakkan dasar-dasar olah kanuragan kepadanya."
Begitulah akhirnya pembicaraan dua orang yang berilmu tinggi itu berkisar apa yang harus Kyai Gringsing lakukan seperti yang sudah Sunan Kalijaga pesankan lewat putra nya,Sunan Muria.

Sementara itu,kabut di sekitar lereng merapi itu pun perlahan mulai turun. Matahari memancarkan cahaya kehidupan,  kepada setiap rakyat di Bumi Mataram.
Merapi pun terlihat bernafas tenang. Kepulan asap putih dari puncaknya seolah mengisyaratkan bahwa Sang Merapi akan kembali dalam tidur panjangnya.

"Kyai. Aku harus segera kembali ke Gunung Muria." Berkata Sunan Muria.
"Kalau Yang Maha Kuasa mengijinkan,kita akan berjumpa kembali" tutup Sunan Muria.
"Tentu Aku tidak bisa menahan Kanjeng Sunan yang pasti sudah ditunggu murid-murid Kanjeng."
Berhenti sejenak,Kyai Gringsingpun melanjutkan, "Aku juga akan segera meninggalkan tempat ini Kanjeng."

"Baiklah Kyai,Aku mohon diri. Aku juga berharap Kyai segera dapat mengambil Kitab itu.
Assalamu'alaikum,"salam Sunan Muria sebelum beranjak dari tempat itu.

"Wa'alaikum salam."

Ditatapnya punggung Sunan Muria yang berjalan tenang meninggalkan gubuk tempat tinggalnya.

"Aku harus secepatnya menemui Sukra." Membatin Kyai Gringsing."Dan juga segera mengambil Kitab itu"
Entah kitab apa yang dimaksud Kyai Gringsing itu. Hanya Kanjeng Sunan Kalijaga dan putra nya Kanjeng Sunan Muria serta Kyai Gringsing sendiri yang mengetahuinya.(*silahkan pembaca yang budiman bertanya kepada mereka,bisa lewat sms,WA,atau BBM,kitab apa gerangan yang di maksud #nahLho)
Segeralah Kyai Gringsing bersiap diri. Ditanggalkannya semua yang selama ini menjadi ciri dari Kyai Gringsing si orang berjambuk.
"Tidak ada lagi Kyai Gringsing." Bergumam Kyai Gringsing seolah kepada dirinya.
Maka begitulah,sejak hari itu Kyai Gringsing akan memulai peran barunya.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 11 )

     Sementara itu di Perdikan Menoreh telah kembali pula menjadi tenang. Matahari yang mulai beranjak semakin tinggi memancarkan sinarnya. Embun pagi pun telah pula berajak pergi dari atas pucuk-pucuk padi yang mulai menguning.
Di rumahnya Agung Sedayu pun telah bersiap pula pergi ke barak Pasukan Khusus Mataram yang berada di Perdikan Menoreh. Bagaimanapun ketegangan dengan Kadipaten Panaraga telah memaksa prajurit-prajuritnya dalam kesiagaan sepenuhnya.

Dengan ditemani Ki Jayaraga yang belum lah pergi ke sawah,Agung Sedayu menikmati penganan ala kadarnya yang telah disiapkan oleh Sekar Mirah istri yang sangat dicintanya itu (*dan satu-satunya..heehe..) di serambi depan rumahnya.

"Ki Jayaraga."Berkata Agung Sedayu setela diteguknya teh hangat di depannya.
"Agaknya Merapi telah menjadi tenang kembali."

"Benar Ki Rangga,"berkata Ki Jayaraga selanjutnya," Segala puji bagi Sang Pencipta Alam Semesta. Bencana itu tidaklah terjadi."
Ki Jayaraga menarik nafas panjang. Diteguknya teh yang tersaji didepannya. Diambilnya pula sepotong penganan dan dengan penuh sukur dimakannya.
"Mari Ki Rangga,nanti penganan ini keburu dingin. Agaknya Nyai Sekar Mirah tahu kalau gigiku tak lagi mampu mengunyah makanan yang terlalu keras."

Tersenyum Agung Sedayu mendengar kelakar dari Ki Jayaraga.
"Tetapi agakny berbanding terbalik dengan ilmu kanuragan yang Ki Jayaraga miliki." Berkata Agung Sedayu kemudian. " Gigi memang sudah mulai lemah,tetapi tangan Ki Jayaraga akan mampu memecahkan batu sekepala kerbau sekalipun."

Tertawa pelan Ki Jayaraga mendengar perkataan Agung Sedayu itu.
"Tentu tidak bisa dibandingkan dengan sorot mata Ki Rangga yang bisa meruntuhkan bukit"

Merekapun tertawa berdua bersamaan. Sementara Sekar Mirahpun telah keluar membawa perlengkapan Agung Sedayu.

"Tetapi ada baiknya Aji Sigar Bumi Ki Jayaraga tidaklah digunakan pada saat Ki Jayaraga mengayunkan cangkulnya" Sekar Mirah menimpali guyonan mereka berdua.
Kembali mereka tertawa lepas menambah segarnya pagi itu.

"Dimana Sukra,Mirah?" Beberapa saat kemudian bertanya Agung Sedayu.
"Dia sudah kembali ke sawah Kakang."Jawab sekar mirah sambil mengulurkan perlengkapan.
"Anak itu nampaknya sudah mulai beranjak dewasa."

Ki Jayaraga menghela nafas perlahan,kemudian berkata " Benar Nyai. Minatnya mempelajari olah kanuraganpun juga semakin kuat."

"Aku juga melihatnya demikian Ki."Berkata Agung Sedayu sambil membenahi pakaian keprajuritanya.
"Semoga anak itu dapat berkembang menjadi laki-laki pinunjul di kemudian hari"

"Akupun berharap demikian Ki Rangga"
Beberapa saat kemudian,Agung Sedayu telah benar-benar siap.

"Mirah, Aku berangkat dulu."
Sekar Mirahpun mencium punggung tangan suaminya dan berkata," Berhati-hatilah Kakang"

"Aku mohon diri Ki."
"Silahkan Ki Rangga." Ki Jayaraga pun berdiri dari duduknya.
"Aku juga akan segera menyusul Sukra ke sawah."

Demikianlah di saat matahari semakin tinggi,maka kehidupan Perdikan Menoreh itu kembali berjalan seperti hari-hari sebelumnya.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 12 )

   Sementara itu di hutan lereng Merapi sebelah selatan,terlihat bayangan hitam berkelebat cepat.
Seolah seringan kapas,tubuh orang itu laksana terbang tanpa menjejak bumi.
Tidak berapa lama,orang itu telah sampai ditepi hutan. Orang itu berhenti sejenak.
"Agaknya aku telah sampai di Padukuhan Tela Wangi,"bergumam orang itu.
"Sebaiknya aku tidak memasuki Padukuhan ini. Aku harus segera menemui Kyai Sarwa Rupa di Padepokan Kelir Putih." Berkata orang itu lagi yang tak lain adalah Kyai Gringsing.
Demikianlah,akhirnya orang itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tidak melalui Padukuhan Tela Wangi,tetapi dia sengaja melewati jalan setapak di pinggir hutan diluar Padukuhan itu.
Menjelang tengah hari Kyai Gringsing telah sampai di sebuah kaki bukit yang puncaknya tampak putih laksana kelir. Di sanalah Padepokan Kelir Putih tempat tinggal Kyai Sarwa Rupa berada.
Dengan kemampuan meringankan tubuhnya yang luar biasa tinggi,tentu bukan hal yang aneh bila tidak berapa lama Kyai Gringsing telah pula sampai di puncak bukit kelir.

Dari kejauhan tampak oleh Kyai Gringsing regol padepokan Kelir Putih itu. Melangkah pelan Kyai Gringsing menuju pintu regol Padepokan.
Ditebarkannya pandangannya.
"Padepokan ini sudah banyak berubah."Membatin Kyai Gringsing.
Tiba-tiba dari arah regol Padepokan  dilihatnya seseorang berdiri seolah menyambut Kyai Gringsing.

"Assalamu'alaikum ki sanak" salam Kyai Gringsing ketika sudah berhadapan dengan orang itu.

"Wa'alaikum salam ,Kyai. Marilah Kyai,guru sudah menunggu kehadiran Kyai." Jawab orang itu yang adalah cantrik dari padepokan Kelir Putih.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar itu.
"Jadi Kyai Sarwa Rupa sudah tahu akan kedatanganku"berkata Kyai Gringsing kemudian.

"Guru hanya mengatakan,sebelum matahari tergelincir akan ada tamu yang datang ke Padepokan." Jawab cantrik itu sambil mempersilahkan Kyai Gringsing mengikuti dirinya.

Dipersilahkan Kyai Gringsing naik ke Pendapa padepokan. Ternyata di sana telah menunggu seorang yang juga sudah sangat tua. Seorang berjubah putih ,berwajah bersih seolah bersinar di hiasi jenggot panjang di dagunya.

"Assalamu'alaikum Kyai,"salam Kyai Gringsing kemudian.
"Wa'alaikum salam, mari Kyai silahkan duduk.". Sambut orang itu yang adalah Kyai Sarwa Rupa.
"Maafkan bila aku bukanlah seorang tuan rumah yang baik sehingga tidak bisa menyambut Kyai dengan lebih baik.
Tertawa Kyai Gringsing mendengar itu. Setelah beberapa saat saling mengabarkan keadaan masing-masing,maka berkata Kyai Gringsing kemudian.
"Kyai,seperti juga kyai yang sudah mengetahui kedatanganku kesini,tentu Kyai juga sudah mengetahui maksud kedatanganku ke tempat ini."

"Tentu tidaklah demikian Kyai,"berkataKyai Sarwa Rupa kemudian sambil tertawa perlahan.
"Kalaulah tidak karena ada yang memberitahukan kepadaku akan kedatangan Kyai Gringsing,tentu aku juga tidak akan mengetahuinya."

"Kyai terlalu merendah."Tersenyum Kyai Gringsing dan melanjutkan. "Baiklah Kyai,tentu Kanjeng Sunan Muria telah menceritakan semuanya kepada Kyai tentang maksud kedatanganku ini."
Tersenyum Kyai Sarwa Rupa,kemudia katanya,
"Benar Kyai, sebenarnyalah memang beberapa purnama yang lalu Kanjeng Sunan telah datang ke padepokan ini."
Kyai Sarwa Rupa menghela nafas,selanjutnya berkata." Beliau Kanjeng Sunan menitipkan sebuah kitab yang menurut keterangan Beliau,kitab itu di tulis oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang harus aku berikan kepada Kyai Gringsing."

Sebelum sempat Kyai Sarwa Rupa berkata,telah datang seorang cantrik membawa hidangan penganan beserta wedang sereh gula merah yang hangat.

"Silahkan Kyai, hasil kebun dari murid-murid Padepokan Kelir Putih."Berkata Kyai Sarwa Rupa "Tempat ini akan selalu dingin sepanjang hari meskipun matahari bersinar terik. Sehingga wedang sereh ini akan bisa sedikit menghangatkan badan kita."

"Terila kasih Kyai."

Setelah sejenak menikmati apa yang telah dihidangkan,Kyai Sarwa Rupa melanjutkan."Di samping itu Beliau Kanjeng Sunan juga sudah memintaku membuatkan sebuah topeng kulit. Tetapi untuk topeng itu,sampai saat ini memang belum aku buat. Karena aku juga perlu tahu,siapakah yang akan mengenakan topeng buatanku itu nantinya."

Kyai Gringsing menghela nafas. Maka sejurus kemudian Kyai Gringsing telah menceritakan semua yang telah dialaminya. Diceritakan pula tentang pesan Kanjeng Sunan Kalijaga kepadanya lewat Kanjeng Sunan Muria.
"Sebuah amanah yang sebenarnyalah sangat berat Kyai ." Berkata Kyai Gringsing kemudian.
Kyai Sarwa Rupa menganguk-anguk mengerti. "Jadi topeng itu Kyai Gringsing sendiri yang akan mengenakannya?" Bertanya Kyai Sarwa Rupa.

"Begitulah Kyai. Tentu Kyai bisa menilai topeng semacam apa yang pantas aku kenakan."

Sambil tersenyum Kyai Gringsing berkata,"Apakah Kyai menghendaki topeng berwajah ksatria tampan?"
Tertawa Kyai Gringsing mendengar kelakar Kyai Sarwa Rupa.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 13 )

"Sebenarnyalah Kyai,Aku sudah menyiapkan uba rampe untuk membuat topeng itu." Berkata Kyai Sarwa Rupa kemudian.
"Aku memerlukan waktu barang sepasar untuk menyelesaikan topeng itu. Sementara itu Aku persilahkan Kyai untuk sementara waktu tinggal di Padepokan ini.

"Terimakasih Kyai. Tapi Aku mohon maaf,biarlah untuk beberapa hari ini Aku melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan Menoreh."

Kyai Sarwa Rupa pun maklum dengan keinginan Kyai Gringsing.
"Baiklah Kyai,kalau memang itu kehendak Kyai. Sementara itu,aku akan menyelesaikan topeng itu."Berkata Kyai Sarwa Rupa. Kemudian lanjutnya," Tapi apakah tidak sebaiknya malam nanti Kyai Gringsing menginap di sini?"

"Sekali lagi Aku ucapkan banyak terima kasih Kyai. Tapi akan lebih baik kalau Aku secepatnya mengetahui keadaan Sukra di Menoreh." Menjawab Kyai Gringsing.
"Selanjutnya Kyai, Aku mohon perkenan Kyai untuk membawa serta Kitab itu sekarang"

"Baiklah Kyai, Akan Aku ambilkan."Berkata Kyai Sarwa Rupa. Sesaat kemudian kemudian Kyai Sarwa Rupa pun telah pula kembali dengan membawa sebuah  peti kayu yang berukir indah dan sangat halus.
"Aku tidak mengetahui apa isi peti ini sebenarnya Kyai." Lanjut Kyai Sarwa Rupa kemudian," Kalau lah aku dapat menyebutnya berisi Kitab,karena memang Kanjeng Sunan berkata demikian."

"Terimakasih Kyai."

Demikianlah akhirnya setelah Kyai Gringsing melaksanakan kewajiban kepada Sembahanya,maka menjelang senja Kyai Gringsing telah meninggalkan Padepokan Kelir Putih.

"Sebelum tengah malam mudah-mudahan aku sudah sampai di tepi Kali Praga." Membatin Kyai Gringsing.
Kemudian yang terjadi adalah sangat mengagumkan.
Tubuh Kyai Gringsing kemudian bergerak dengan sangat cepat dan ringan. Entah Aji Saepi Angin atau Aji Lipat Bumi yang telah Kyai Gringsing terapkan.
Orang tua yang berilmu sangat tinggi dan telah hampir sempurna itu bergerak laksana terbang. Sekali-kali Kyai Gringsing berjalan biasa ketika mendekati sebuah padukuhan. Sengaja Kyai Gringsing tidak masuk Padukuhan.

Demikianlah,akhirnya menjelang tengah malam Kyai Gringsing telah tiba di tepi Kali Praga. Dipandanginya arus Kali Praga yang nampak tenang itu.
 "Aku tidak mungkin menggunakan rakit untuk menyeberangi Kali Praga karena mungkin akan ada yang bisa mengenali aku."gumam Kyai Gringsing.
 Sejurus kemudian Kyai Gringsing telah mengambil beberapa ranting pohon. Dipatahkan lah ranting itu menjadi beberapa bagian. Kemudian Kyai Gringsing melangkah mendekati tepi Kali Praga.
Setelah menyebut nama Sembahannya,Kyai Gringsing melemparkan potongan-potongan ranting itu ke Kali Praga.
Yang kemudian terjadi sungguh suatu pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa tinggi. Kyai Gringsing bergerak sangat ringan dan cepat di atas ranting-ranting yang telah dia lemparkan ke Kali Praga itu. Tidak berapa lama Orang tua itu telah berada di seberang Kali Praga.
"Alhamdulillah." Desis Kyai Gringsing.


(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 14 )

     Begitulah setibanya di seberang Kali Praga,Kyai Gringsing melanjutkan perjalanannya menuju Tanah Perdikan Menoreh.
Sengaja Kyai Gringsing tidak ingin bertemu pengawal-pengawal padukuhan di sepanjang jalan menuju tanah perdikan Menoreh.
Sebenarnyalah Kyai Gringsing merasakan kesiagaan penuh para pengawal-pengawal padukuhan itu dengan semakin memburuknya hubungan antara Panaraga dan Mataram.
Tidak beberapa lama kemudian sampailah Kyai Gringsing di regol depan rumah Agung Sedayu.
Sesaat Kyai Gringsing hanyut dalam keharuan. Bagaimanapun juga tempat itu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Di rumah itulah tinggal murid terkasihnya Ki Rangga Agung Sedayu. Seorang laki-laki pilih tanding,yang juga adalah teman sepengembaraan Panembahan Senopati dimasa mudanya.

Sementara itu di dalam biliknya, Agung Sedayu merasakan desiran di dadanya.
"Ada apa dengan malam ini."Membatin Agung Sedayu. Sekilas  dipandanginya Sekar Mirah yang tertidur pulas di sampingnya. Dibenahi kain yang menyelimuti tubuhnya. Sebelum beranjak dari pembaringan ,perlahan di ciumnya kening istri tercintanya itu.

Perlahan Agung Sedayu melangkah keluar  menuju halaman rumahnya. Ditatapnya langit yang hitam namun berkilauan bertabur bintang.
"Malam yang aneh. Betapa perasaanku menjadi sangat damai,tetapi rasa-rasanya dada ini semakin berdebar." Bergumam Agung Sedayu.
Sementara itu,langkahnya tidak berhenti di halaman. Perlahan tanpa disadarinya dia telah berdiri di regol rumahnya. Dihelanya perlahan nafasnya.

"Benar-benar aneh." Dipertajam seluruh indranya. Di trapkannya Aji sapta panggraita, dan Aji Sapta Pangrungu. Tapi sama sekali Agung Sedayu tidak merasakan kehadiran seorangpun di sekitar tempat itu.
Sementara itu hanya beberapa patok dari tempat Agung Sedayu berdiri,Kyai Gringsing telah mengerahkan tenaga cadangannya untuk menyerap segala bunyi dari tubuhnya. Dan semenjak Kyai Gringsing meminum ramuan dari Sunan Kalijaga,seluruh ilmu yang dimiliki Kyai Grising seolah meningkat dua kali lipatnya. Itulah kenapa Agung Sedayu sama sekali tidak mampu menangkap kehadiran Kyai Gringsing di tempat itu.
"Maafkan aku Agung Sedayu"membatin Kyai Gringsing, ingin rasanya segera ditemui murid terkasihnya itu. "Belum saatnya Aku menemuimu."Berkata Kyai Gringsing dalam hati.

Agung Sedayu yang masih berdiri termangu didepan pintu regol rumahnya. Tiba-tiba Agung Sedayu merasakan keanehan disekitar tempatnya berdiri. Perlahan- lahan dilihatnya kabut putih yang semakin lama semakin tebal.
"Kabut ini"termangu-mangu Agung Sedayu melihat kabut yang semakin pekat itu.
"Mungkinkah?" Berkata Agung Sedayu seperti kepada dirinya sendiri.

(Punten ndalem sewu badhe boci rumiyen,salam)

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 15 )

Sebenarnyalah memang dengan sengaja Kyai Gringsing telah mengetrapkan ilmu kabut nya. Kabut itu memang tidak bertambah pekat. Tapi sudahlah cukup bagi Agung Sedayu tahu,bahwa kabut itu bukanlah kabut sewajarnya.
Semakin berdebar dada Agung Sedayu. Kakinya seolah tak mampu lagi digerakkan. Sementara rasa haru yang membuncah didadanya semakin membuat nya hanyut.
Berbagai macam pertanyaan bergumpal di dirinya.

"Siapakah  jalur keturunan murid Perguruan Windujati yang masih mampu mengetrapkan Ilmu Kabut ini"
Dengan panggraita batin nya yang tajam,tahulah Agung Sedayu,bahwa orang yang telah mengetrapkan ilmu kabut itu,sama sekali tidaklah berniat jahat.

Sementara itu Ki Jayaraga yang juga telah merasakan sesuatu yang aneh telah keluar pula di regol depan rumah Agung Sedayu.

"Apa yang terjadi Ki Rangga,"bertanya Ki Jayaraga kemudian.
Agung Sedayu menatap Ki Jayaraga tanpa menjawab sepatah katapun.
Ki Jayaraga pun segera tahu bahwa kabut disekitar tempat itu bukanlah kabut sewajarnya.

"Ki Rangga, bukankah ini ilmu kabut perguruan Windujati?"

"Demikianlah Ki Jayaraga," menjawab Agung Sedayu.
Berkata Ki Jayaraga kemudian," Selain Ki Rangga sendiri,siapa yang saat ini mampu menguasai ilmu ini Ki Rangga?"
Termangu-mangu Agung Sedayu mendengar pertanyaan Ki Jayaraga. Sebenarnyalah Agung Sedayu tahu pasti,bahwa sepeninggal Kyai Gringsing belum ada yang mampu menguasai ilmu kabut itu kecuali dirinya. Itupun masih jauh dari sempurna.

"Entahlah Ki," hanya itu yang mampu keluar dari bibir Agung Sedayu. Rasa-rasanya suaranya tercekat oleh rasa yang tidak dia ketahui.

Sementara itu Kyai Gringsing yang telah menarik kembali ilmu kabutnya, segera berkelebat dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu. Memang Ilmu Kyai Gringsing setelah meminum ramuan dari Kanjeng Sunan Kalijaga telah menjadi sangat luar biasa tinggi. Sehingga Agung Sedayu dan Ki Jayaraga,dua orang yang sangat pilih tanding di seluruh tlatah Mataram itupun tidak mampu menangkap kehadirannya.

Untuk beberapa saat lamanya, Agung Sedayu dan Ki Jayaraga masih berada di tempat itu.
"Ki Rangga,biarlah aku keluar sebentar untuk sekedar melihat-lihat keadaan sekitar tempat ini." Berkata Ki Jayaraga.
"Silahkan Ki, Aku juga ingin bermunajad kepada Yang Maha Agung di sisa malam ini."
"Baiklah Ki Rangga,aku mohon diri." Setelah mengucap salam,Ki Jayaraga melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Agung Sedayu menuju Mushola di samping rumahnya.

Demikianlah akhirnya berpisahlah dua orang berilmu tinggi itu. Ki Jayaraga telah melangkah menyusuri jalan perdikan itu. Sesekali  ditemuinya pengawal perdikan yang masih saja berjaga bergantian dengan kewaspadaan yang tinggi.

Tanpa terasa Ki Jayaraga telah berada di jalan keluar perdikan Menoreh menuju bulak panjang.
Tiba-tiba Ki Jayaraga mendengar desir sangat halus tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ki Jayaraga pun berkelebat cepat menuju ke arah suara itu. Tapi betapa herannya Ki Jayaraga sama sekali tidak menemukan apapun di tempat itu.
"Luar biasa ilmu orang ini. Mungkin dia juga yang telah telah mengetrapkan ilmu kabut di halaman rumah Ki Rangga."Berkata Ki Jayaraga dalam hati.
Di tajamkannya Aji Sapta Pangrungu. Tiba-tiba beberpa langkah di belakang Ki Jayaraga berdiri,didengarnya langkah halus mendekatinya.

"Assalamu'alaikum Ki Jayaraga,"berkata orang yang baru keluar dari balik gerumbul.
Terkesiap Ki Jayaraga melihat kehadiran orang itu. Bukan saja karena  dia tidak mampu mengetahui kehadirannya sebelumnya,tetapi Ki Jayaraga bagaikan berada di alam mimpi melihat orang itu.

"Wa'alaikum salam."Dengan terbata-bata Ki Jayaraga menjawab salam itu. Ditatapnya lekat-lekat orang tua yang berdiri dihadapannya itu.

"Kyai Gringsing." Berdesis suara Ki Jayaraga hampir tak terdengar.

"Benar Ki Jayaraga."Menjawab orang itu perlahan. Ki Jayaraga pun tak lagi kuasa menahan air mata haru. Di peluknya Kyai Gringsing erat. Sangat erat. Demikian Kyai Gringsingpun menjadi sangat terharu pula.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 16 )

Demikianlah untuk beberapa saat,kedua orang tua itu hanyut dalam keharuan yang dalam. "Apa kabar Ki Jayaraga?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian

"Seperti yang Kyai lihat,Yang Maha Agung masih senantiasa melindungi aku."Menjawab Ki Jayaraga dengan suara parau terharu.
"Dan agaknya Kyai sendiri sekarang bertambah muda" lanjut Ki Jayaraga.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar perkataan Ki Jayaraga. "Semua juga atas kemurahan Yang Maha Kuasa Ki." Berkata Kyai Gringsing kemudian.
"Agaknya kita bisa kembali memulai petualangan kita seperti waktu kita momong Raden Rangga waktu itu Kyai." Menyahut Ki Jayaraga kemudian.
 ( Silahkan sanak kadang membaca kembali ADBM sekitar seri 197 )
Tersenyum Kyai Gringsing kemudian berkata,"Tentu akan sangat menyenangkan apabila hal itu bisa kita lakukan lagi Ki"
Setelah bebarapa saat masing-masing larut dalam kenangan masa lalu itu,Ki Jayaraga berkata," Mari Kyai,agaknya banyak yang bisa Aku dengarkan cerita dari Kyai Gringsing selama ini. Di tengah pategalan itu ada gubuk tempat kita bisa bicara lebih nyaman."

"Mari Ki,memang ada beberapa hal yang ingin Aku sampaikan kepada Ki Jayaraga."
Setelah berkata demikian,maka mereka berdua segera beranjak kesebuah gubuk di tengah pategalan.

"Ki Jayaraga"berkata Kyai Gringsing setelah mereka berdua berada di gubuk pategalan."Sebelumnya mohon kiranya Ki Jayaraga memaafkan Aku karena setelah sekian lama baru saat ini aku menemui Ki Jayaraga"
Ki Jayaraga memperhatikan dengan saksama seolah takut ada satu kata saja yang terlewat dari apa yang akan di sampaikan Kyai Gringsing.
Setelah menghela nafas Kyai Gringsing melanjutkan,"Sebenarnyalah Aku memang selama ini aku tinggal menyendiri di lereng Gunung Merapi sebelah selatan Ki."
Ki Jayaraga mengangguk-angguk mengerti. Begitulah,akhirnya Kyai Gringsing menceritakan semuanya kepada Ki Jayaraga. Bagaimana ketika suatu malam seseorang yang ternyata Sunan Muria memberi ramuan langka dari Sunan Kalijaga. Tentang pertemuannya di Suralaya dengan Sunan Muria,tentang Kitab dari Sunan Kalijaga yang sekarang juga telah dibawanya. Dan juga tentang Sukra,seorang bocah yang sekarang sudah beranjak dewasa,cucu dari seorang berilmu tinggi yang telah dikalahkan oleh Sunan Kalijaga di wilayah Pegunungan Selatan. Termangu-mangu Ki Jayaraga mendengar semua itu.
"Ki Jayaraga,"setelah menghela nafas Kyai Gringsing melanjutkan,"Aku bersukur di sisa hidupku yang mungkin tidak berapa lama lagi ini,Aku masih dapat memberikan sedikit sumbangsihku untuk tanah Mataram ini."

"Kyai." Setelah beberapa saat keduanya terdiam,Ki Jayaraga berkata," Tapi kenapa Kyai tidak menemui Agung Sedayu? Alangkah sangat gembiranya bila Kyai menemui nya."

"Sengaja memang Aku belum akan menemuinya Ki Jayaraga. Bagaimanapun juga,Aku harus bisa bersikap adil kepada dua orang murid tertuaku itu Ki. Sementara seperti Ki Jayaraga ketahui,Swandaru sangat berbeda dengan Agung Sedayu."Kyai Gringsing menghela nafas perlahan,prihatin. Seolah ingin melepaskan beban di dadanya kembali dihela nafasnya. "Itulah kenapa aku belum akan menemui Agung Sedayu." Menerawang jauh pandangan Kyai Gringsing menempus gulitanya malam itu.

Ki jayaraga pun dapat mengerti penjelasan Kyai Gringsing,meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan. Tapi Ki Jayaraga pun maklum,bahwa memang Swandaru dan Agung Sedayu sangatlah berbeda perwatakannya. Dan dapatlah dimengertinya kenapa Kyai Gringsing belum bisa sepenuhnya percaya kepada Swandaru.

"Ki Jayaraga,dalam hitungan hari aku harus membawa Sukra bersamaku."

"Maksud Kyai?"

"Benar Ki Jayaraga,dengan sangat terpaksa aku harus membawanya tanpa seijin Agung Sedayu." Berkata Kyai Gringsing seolah mengerti apa yang dipikirkan Ki Jayaraga.

"Aku mohon kepada Ki Jayaraga untuk merahasiakan siapa yang telah membawa Sukra." Kyai Gringsing menghela nafasnya panjang-panjang.
Sambil tersenyum Ki Jayaraga berkata "Rasanya seandainyapun seisi rumah Ki Rangga akan menghalangi Kyai mengambil anak itu,akan sia-sia juga"

"Tentu tidak demikian juga Ki,"tersenyum pula Kyai Gringsing,lanjutnya " Ini semata-mata aku lakukan untuk tetap menjaga rahasia jati diri anak itu seperti pesan Kanjeng Sunan Kalijaga. Bagaimanapun juga,terlalu banyak orang-orang yang mendendam kepada Kakek dari anak itu dan seluruh jalur keturunannya."

"Aku mengerti Kyai,dan agaknya akupun tidak bisa tidak,akan ikut dalam pusaran rahasia besar ini sampai saatnya nanti datang untuk membuka semuanya."
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar perkataan itu.
"Kyai,apakah Kyai juga sudah membuka peti yang menurut keterangan Kanjeng Sunan Muria adalah Kitab dari Sunan Kalijaga itu?"Bertanya Ki Jayaraga tiba-tiba.

"Belum Ki. Tapi ada baiknya juga Ki Jayaraga untuk mengetahui isi Peti kayu ini." Setelah berkata demikian,Kyai Gringsing membuka bungkusan kain yang selalu dibawa kemana pun Kyai Gringsing pergi.
Berdebar kedua orang tua berilmu tinggi itu tak kala peti kayu berukir sangat halus dan indah itu telah berada di hadapan mereka.
"Mari kita lihat bersama-sama Ki,apa sebenarnya isi peti kayu ini." Sedikit bergetar tangan Kyai Gringsing ketika mengangkat penutup peti itu.



(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 17 )

Dengan tidak lupa menyebut Nama Sembahannya dan sangat hati-hati Kyai Gringsing mengangkat pelan penutup peti kayu itu.

"Subhanallah"

Hampir bersamaan kedua orang tua itu memuji sembahannya. Dan benarlah adanya,didalam peti itu terdapat sebuah kitab bersamak kulit bergambar  tombak bermata tiga. Itulah Kitab Jaya Kurtuti. Sebagai orang yang sudah sekian lama malang melintang di dunia olah kanuragan tahulah Kyai Gringsing maupun Ki Jayaraga apa isi dari Kitab itu.

"Luar biasa," gumam perlahan Ki Jayaraga seolah kepada dirinya sendiri," Ternyata di ujung senjaku ini, masih berkesempatan melihat sebuah Kitab ini."
"Benar Ki,"melanjutkan Kyai Gringsing kemudian."Aku juga baru mendengar tentang Kitab ini dari Guruku sendiri, Eyang Windujati."

Ternyata disamping sebuah kitab luar biasa itu,juga terdapat sepasang gelang lebar, berwarna putih keperakan,lentur tapi terlihat sangat kokoh. Kembali kedua orang sudah sangat berpengalaman itu berdesis perlahan memuji Keagungan Sembahanya. Dan tahulah Kyai Gringsing maupun Ki Jayaraga siapa pemilik sepasang gelang itu. Yang menurut cerita adalah seorang yang berilmu sangat tinggi tapi berwatak angin-anginan. Dalam waktu tertentu dia laksana malaikat penolong,tetapi saat tertentu laksana malaikat pencabut nyawa yang sangat tidak mengenal belas kasihan kepada lawan-lawannya. Dan dia bernama Naga Kala Bhumi. Entah apakah itu nama sebenarnya atau kah sekedar julukan.

"Apakah pemilik gelang ini yang telah dikalahkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga Kyai"bertanya Ki Jayaraga kemudian.

"Sangatlah mungkin Ki Jayaraga."Sambil mengelus jenggot tipisnya Kyai Gringsing melanjutkan,"ternyata Naga Kala Bhumi yang menurut cerita Guruku tiba-tiba lenyap itu adalah kakek dari Sukra,Ki."

"Benar Kyai."Berkata Ki Jayaraga kemudian,"Kalau kita runut memang sedikit banyak ada persamaan watak antara Sukra dan orang yang bernama Naga Kala Bhumi itu Kyai."
Kyai Gringsing mengangguk-angguk membenarkan. Memang sebenarnyalah sudahlah mulai terlihat watak angin-anginan dari Anak muda yang benama Sukra itu.
Begitulah untuk selanjutnya pembicaraan kedua orang tua itu berkisar antara Kitab Jaya Kurtuti dan orang yang bernama Naga Kala Bhumi.

Dan akhirnya ketika pembicaraan dirasa oleh Kyai Gringsing telah cukup maka berkata Kyai Gringsing kemudian,"Ki Jayaraga,agaknya sebentar fajar akan segera menjelang. Aku harus segera pergi Ki"
Ki Jayaraga menghela nafas perlahan. Rasanya pembicaraan malam itu masih belum cukup mengobati rasa rindunya kepada sosok luar biasa di hadapannya.
"Apa rencana Kyai Gringsing sebelum Kyai Sarwa Rupa menyelesaikan pekerjaannya?" Bertanya Ki Jayaraga.
Sambil membenahi isi peti yang ada di hadapannya,Kyai Gringsing menjawab,"Aku akan melihat-lihat padepokan kecilku di Jati Anom barang sebentar Ki. Ki Widura mungkin perlu aku beri penjelasan seperlunya sehubungan dengan amanah yang harus aku emban ini. Disamping itu,aku juga akan melihat keadaan Swandaru Geni di Sangkal Putung." Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Memang setiap kali dia teringat muridnya yang satu itu,selalu ada rasa prihatin yang mendalam di hatinya.
Ki Jayaraga pun mengerti apa yang dirasakan Kyai Gringsing.

"Baiklah Ki Jayaraga,aku mohon diri. Dilain waktu,mungkin aku memerlukan bantuan Ki Jayaraga." Berkata Kyai Gringsing sambil dikenakannya camping lebarnya kembali.

Kembali Ki Jayaraga merasakan rasa haru yang menyelimuti dada nya. 
"Silahkan Kyai. Mudah-mudahan segala urusan Kyai dimudahkan oleh Yang Maha Agung." Setelah berkata demikian,Ki Jayaraga memeluk erat Kyai Gringsing. Kyai Gringsing pun merasakan haru pula.

"Mudah-mudahan demikian Ki. Assalamu'alaikum " tutup Kyai Gringsing.
'Wa'alaikum salam."
Ki Jayaraga menatap Kyai Gringsing yang melangkah perlahan meninggalkan pategalan itu. Ki Jayaraga menghela nafasnya dalam-dalam.
Tidak berapa lama kemudian,Ki Jayaragapun telah pulang beranjak pergi dari tempat itu.



(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 18 )

Sementara itu di rumahnya, Agung Sedayu yang telah selesai dari munajat panjang sepertiga malamnya, perlahan melangkah keluar dari mushola . Di hirup udara segar pagi itu dalam-dalam,sambil tak lupa hatinya terus menerus melantunkan puja-puji atas Kebesaran Penguasa Hidupnya. Tanpa disadari langkahnya mengantar ke depan sanggar. Sayup-sayup di dengarnya nafas memburu dari dalam sanggar itu.
"Rupanya Sukra sepagi ini sudah berada di dalam sanggar" bergumam Agung Sedayu. Di bukanya perlahan pintu sanggar itu.

"Ki Rangga" berkata Sukra yang segera menghentikan gerak tubuhnya setelah tahu siapa yang berdiri di pintu sanggar.

"Teruskan Sukra"berkata Agung Sedayu yang kemudian duduk di amben kecil di sudut sanggar.

"Baik Ki Rangga" menjawab Sukra dengan mata berbinar penuh semangat.
Maka sejurus kemudian Sukra pun telah melanjutkan gerakan-gerakan olah kanuragannya. Seperti yang telah diajarkan oleh Glagah Putih,maka semua unsur-unsur gerak telah dapat dikuasainya dengan baik.
Agung Sedayu mengangguk-angguk melihat apa yang dilihatnya. Dan memang sebenarnyalah Agung Sedayu pun menjadi kagum dengan kemantapan gerak dari Sukra.
"Anak ini sangat berbakat."Bekata Agung Sedayu didalam hati. "Apabila dia berada di tangan yang benar,tentu akan menjadi seorang anak muda yang pilih tanding."
Beberapa saat berlalu,Sukra masih dengan penuh semangat memainkan unsur-unsur gerak yang dipelajarinya. Namun beberapa saat kemudian,dia telah sampai pada puncak penguasaan ilmu yang di serapnya dari Glagah Putih. Perlahan-lahan gerakannya semakin melambat. Dan akhirnya pada satu titik dia berhenti. Kemudian berdiri tegak,mengendapkan pernafasannya. Keringatnya bagaikan diperas.
Agung Sedayu masih saja mengamati apa yang dilakukan Sukra. Setelah dilihatnya pernafasan Sukra sudah semakin teratur,maka Agung Sedayupun menghampiri Sukra.
Sambil tersenyum di tepuknya pundak Sukra "Bagus Sukra. Aku yakin,kamu akan menjadi  laki-laki yang pilih tanding."

"Mohon restu Ki Rangga,"menjawab Sukra dengan menundukkan wajahnya. Ada sebersit rasa bangga didadanya. Tapi dia tahu benar,bahwa apa yang dikuasainya belumlah sekuku ireng nya Ki Rangga Agung Sedayu yang menurut cerita banyak orang ilmu nya menggapai langit.
"Teruslah berlatih dan berlatih Sukra. Tapi ingat pesanku,akan selalu ada langit di atas langit. Jangan pernah merasa jumawa dengan apa yang kamu miliki." Bertutur Agung Sedayu.
"Karena kesombongan hanya akan menghancurkan diri sendiri"
Sukra masih tetap menundukkan wajahnya. Di perhatiakan benar-benar semua nasehat dari orang yang sangat di hormati dan di kagumi itu.
"Sukra,"maka Agung Sedayu melanjutkan,"tahukah kamu apa itu kesombongan?"
Sukra mengangkat wajahnya sebentar. Dicari nya jawab di mata Ki Rangga Agung Sedayu. "Belum Ki Rangga" mendesis lirih Sukra menjawab,dan kembali ditundukkan wajahnya.
"Kesombongan itu adalah sikap merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Itulah makna kesombongan."
Semakin dalam Sukra menundukkan wajahnya. Diresapinya nasehat-nasehat Agung Sedayu. Dia berjanji dalam hati,akan selalu mengingat dan melaksanakan nasehat-nasehat itu. "Aku mohon doa restu dari Ki Rangga" kembali bibir Sukra mendesis lirih.
Demikianlah,tidak lama berselang sayup-sayup Adzan Subuh berkumandang dari Masjid induk Perdikan Menoreh. Mengalun indah menembus dinding-dinding rumah penghuni Perdikan Menoreh. Memanggil setiap jiwa-jiwa yang  tunduk pada Kebesaran Penguasa Subuh.
"Bersihkan badanmu Sukra. Aku tunggu di mushola." Berkata Agung Sedayu kemudian. Kembali ditepuknya pundak kokoh anak muda itu.
"Baik Ki Rangga" bergegas Sukra keluar dari sanggar menuju pakiwan.
Sementara itu,Agung Sedayupun juga segera beranjak menuju Mushola kecil di samping rumahnya.

Demikianlah,pagi itu seperti pagi-pagi yang telah lewat. Mentari tampak malu-malu bangun dari peraduan malamnya. Kokok ayam jantan seolah turut serta mengagungkan Kebesaran Yang Maha Kuasa. Didapur-dapur setiap penghuni tanah Perdikan itu telah pula mengepulkan asap tanda di mulainya kehidupan hari itu. 

Sementara itu,di seberang Kali Praga terlihat seorang bercaping lebar berjalan dengan tenang. Di pundaknya tergantung sebuah kampil perbekalan perjalanan.
"Mudah-mudahan,sebelum tengah malam aku sudah tiba di Jati Anom."Bergumam orang bercaping lebar yang ternyata adalah Kyai Gringsing.

(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 19 )

Begitulah di pagi buta itu Kyai Gringsing melanjutkan perjalanannya menuju Padepokannya yang berada di Jati Anom.
Hingga menjelang tengah hari, tibalah Kyai Gringsing di sebuah padukuhan yang cukup ramai.
"Ada baiknya aku singgah sebentar di padukuhan ini. Mudah-mudahan tidak ada yang mengenali aku di sini."Bergumam Kyai Gringsing.
Tibalah Kyai Gringsing di sebuah pasar yang lumayan ramai. Memang sebenarnyalah hari itu adalah hari pasaran. Kyai Gringsingpun memasuki sebuah kedai yang berada di sudut pasar. Sengaja dia memilih kedai yang sepi dari pengunjung.
Setelah memberi salam kepada pemilik kedai dan memesan makanan,Kyai Gringsing pun duduk di sudut kedai. Diamatinya setiap sudut kedai,dan memang hanya ada beberapa pembeli. Pemilik kedai itu adalah seorang perempuan tua yang di bantu seorang gadis kecil berumur belasan tahun. Memang kedai itu terkesan agak kumuh. Mungkin karena itulah maka jarang pengunjung yang singgah. Tapi ada yang sedikit aneh menurut panggraita Kyai Gringsing. Dilihatnya perempuan tua pemilik kedai itu masih tampak gesit meskipun ketuannya sudah sangat tampak.
"Kelihatanya wanita tua itu bukan seperti wanita pada umumnya." membatin Kyai Gringsing.
Dan tidak lama berselang,hidangan pesanan Kyai Gringsing pun telah diantar oleh gadis kecil itu.
"Silahkan Ki Sanak,"sapa ramah gadis kecil itu kemudian,"mohon maaf kalau sekiranya ki sanak terlalu lama menunggu."
"Terimakasih Nduk. "Menjawab Kyai Gringsing. Termangu Kyai Gringsing menatap wajah gadis kecil itu. Wajah yang bersih berpipi kemerahan dengan sepasang mata sipit namun jernih dan sinar  yang tajam. Sangat jelaslah bagi pandangan seorang Kyai Gringsing,bahwa gadis kecil itu seorang yang sangat cerdas. Tidak bisa di pungkiri,terheran Kyai Gringsing menyaksikan semuanya.

"Apakah ada yang aneh dengan diriku Ki Sanak" bertanya gadis kecil itu tiba-tiba sambil tersenyum.
Tertawa perlahan Kyai Gringsing mendengar pertanyaan yang polos tanpa malu-malu dari gadis kecil itu.
"Tidak Nduk. Siapa namamu Nduk?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
"Pusari, Ki Sanak" jawabnya singkat dengan tersenyum pula "Baiklah Ki Sanak,aku mohon diri. Kelihatanya biyung memerlukan kembali bantuanku." Tanpa menunggu jawaban dari tamunya bergegas Pusari menuju dapur kedai kecil itu. Sementara itu,sambil menikmati makanannya Kyai Gringsing sengaja mempertajam pendengarannya. Dia ingin tahu apa yang kira-kira diperbincangkan Pusari dengan biyungnya di dapur.
"Apa yang kamu perbincangkan dengan tamu kita itu tadi Pusari"bertanya biyungnya.

"Seperti biasa biyung."

Tertawa perlahan wanita tua itu mendengar jawaban dari Pusari. Dilihatnya sepintas raut muka cucu nya itu. Kembali wanita tua itu tertawa perlahan dan berkata. "Jangan cemberut begitu Pusari."

"Kenapa hampir setiap tamu yang baru pertama singgah di kedai kita selalu menatap ku dengan aneh biyung?"bertanya Pusari dengan bibir bersungut.
Kembali wanita tua itu tertawa," Memang bentuk wajahmu dan kedua matamu akan selalu menimbulkan tanya Nduk." Terang wanita tua itu dengan tangannya tetap sibuk menyiapkan beberapa pesanan. "Sudahlah,sebaiknya kamu antar pesanan ini untuk tamu kita yang lain sebelum mereka menunggu terlalu lama."

Tanpa berkata sepatah katapun Pusari segera beranjak mengantar pesanan yang telah disiapkan biyungnya.
"Silahkan paman,mohonmaaf kalau terlalu lama menunggu."Berkata Pusari kepada laki-laki setengah baya yang terlihat muram wajahnya.
"Terimakasih Pusari." Jawab laki-laki itu singkat sambil menghela nafas. Pusari tidak segera beranjak dari tempat berdirinya. Diamatinya sekilas wajah laki-laki setengah baya itu.
Tiba-tiba Pusari bertanya,"Apakah Paman Wirya sedang ada masalah?"
Tersenyum getir laki-laki yang dipanggil Paman Wirya itu. Dihelanya nafasnya kembali. "Tidak ada Pusari. Apakah biyungmu tidak sedang membutuhkan bantuan kamu?"
"Pesanan semua tamu sudah aku antarkan paman" menjawab Pusari. "Paman wirya,aku mendengar apa yang kemarin paman bicarakan dengan biyung. Apakah karena itu paman kelihatan murung?" Belum juga hilang rasa ingin tahu gadis kecil itu.
Termangu orang yang di panggil Paman Wirya itu.  Untuk kesekian kalinya dihela nafasya dalam-dalam seolah ingin melepaskan beban yang sangat berat di dadanya.
"Duduklah Pusari,"berkata paman wirya selanjutnya. Pusari pun duduk disamping laki-laki itu.
"Pusari,kamu masih terlalu kecil untuk tahu masalah-masalah orang tua Nduk." Dihirupnya wedang sere dihadapnnya.
"Ah paman."Bersungut wajah Pusari mendengar perkataan laki-laki itu. "Aku memang masih kecil paman,tetapi biyung selalu mengajarkan kepadaku untuk bisa belajar bersikap dewasa."
Tertawa tertahan laki-laki yang di panggil paman Wirya itu.
"Baiklah Pusari." Laki-laki itu melanjutkan setelah menyuapkan makanan di mulutnya.
"Mungkin aku harus segera meninggalkan padukuhan ini Nduk."
Berkerut kening Pusari mendengar perkataan laki-laki itu. Belum sempat Pusari bertanya,laki-laki itu melanjutkan,"Rumah itu harus sudah aku kosongkan dalam dua hari ini."
"Apakah Paman Rumeksa tidak memberi waktu lagi kepada Paman Wirya?" Bertanya Pusari.
"Aku sudah berusaha meminta waktu kembali untuk melunasi hutang-hutangku Nduk."Dihela nafasnya dalam-dalam.
"Apakah anak laki-laki paman yang di kota raja masih juga tidak mau membantu kesulitan paman?"Bertanya Pusari kemudian.
"Entahlah Nduk, karena bukanya dia tidak tahu kesulitanku. Tapi sudahlah Nduk. Sebaiknya aku tidak mengganggu anakku." Berkata paman wirya itu perihatin.
"Kalau saja aku masih mempunyai orang tua,tentu aku akan selalu membantu kesulitan keduanya."Tiba-tiba mata Pusari meredup.
Termangu laki-laki yang dipanggil paman Wirya itu mendengar perkataan Pusari.
"Pusari,suatu saat kamu akan bertemu dengan ke dua orang tuamu Nduk."
Pusari menundukkan wajahnya. Terlihat kerinduan yang dalam akan kehadiran kedua orang tuanya yang belum pernah sekalipun dia temui.
"Mereka berdua sekarang entah dimana paman."Dilemparkanya pandangan Pusari keluar kedai. Tampak duka yang semakin dalam di mata indah itu.


(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 20 )

Memang sebenarnyalah Pusari belum sekalipun bertemu dengan ke dua orang tuanya. Menurut cerita biyungnya,Pusari masih sangat kecil ketika ditinggal pergi oleh ke duanya. Dan sampai saat ini pun Pusari belum tahu kenapa ke duanya pergi dan kemana perginya.
Wajah gadis kecil itu semakin menunduk dan tanpa di sadari, air matanya mengembang di kedua pelupuk mata jernih itu. Tergesa dihapus air matanya.
"Paman,suatu saat aku akan pergi mencari ke duanya."Berkata Pusari kemudian dengan mata kembali bersinar penuh keyakinan.
Laki-laki yang dipanggil Paman Wirya itu tersenyum haru. Ditepuknya bahu Pusari pelan,"Kamu pasti akan bisa bertemu dengan ke dua orang tua mu Nduk."
Pusari pun tersenyum memperlihatkan gigi putih nan rapi. "Mohon doanya Paman." Menjawab Pusari dengan mata berbinar riang.
"Baiklah Paman,aku harus membereskan meja-meja itu dulu."
"Silahkan Nduk. Aku juga sudah selesai ." Laki-laki itu juga segera berdiri dari tempat duduknya.
Sementara itu di sudut yang lain,semua pembicaraan Pusari tidak luput dari pendengaran Kyai Gringsing.
"Siapa sebenarnya gadis itu dan siapa pula ke dua orang tuanya?"Membatin Kyai Gringsing.
Tiba-tiba Kyai Gringsing terkejut dengan apa yang di saksikannya. Tampak Pusari dengan sapu lidi di tangannya seperti memainkan sebuah jurus-jurus pedang. Sambil tersenyum-senyum gadis itu terus memain-mainkan sapu lidinya. Pusari tidaklah menyadari apabila yang dilakukannya menarik perhatian Kyai Gringsing.
"Subhanallah,itu jurus pedang Naga Kuning" berdebar dada Kyai Gringsing. "Rupanya benar dugaanku,gadis itu bukanlah keturunan orang jawa dwipa."Membatin Kyai Gringsing,takjub.
"Lalu siapa perempuan yang di panggil biyung itu,"berkerut dahi Kyai Gringsing.

"Pusari!" Tiba-tiba wanita tua yang dipanggil biyung oleh Pusari memanggil.

"Iya biyung,"jawab Pusari dan segera menghampiri biyungnya.
Kyai Gringsingpun kembali menunduk dan merendahkan caping lebar nya yang telah dengan sengaja tidak dilepasnya.
Setelah dirasakan cukup,maka Kyai Gringsingpun telah berdiri pula. Diambilnya beberapa keping uang dan kemudian berjalan menghampiri wanita tua pemilik kedai. Diulurkannya beberapa keping uang itu kepada wanita tua yang di panggil biyung.  Tetapi tiba-tiba wanita tua itu melangkah surut kebelakang melihat sekilas apa yang tergambar di lengan Kyai Gringsing.Ditatapnya tajam-tajam laki-laki tua dihadapannya.
Dengan suara bergetar wanita itu bertanya,"Apakah aku berhadapan dengan murid perguruan Windujati?"
Betapa terkejut Kyai Gringsing mendapat pertanyaan yang tidak diduganya sama sekali itu.
"Pusari,segera kamu tutup kedainya, Nduk."Berkata wanita tua itu tanpa menunggu jawaban Kyai Gringsing.
Dengan hati bertanya-tanya, cekatan Pusari segera melaksanakn perintah biyungnya.
"Mohon maaf Ki Sanak,aku terpaksa menahan mu sebentar di sini. Ada yang harus aku sampaikan kepadamu." Lanjut wanita tua itu.
Kyai Gringsing masih berdiri termangu. Sementara Pusari kembali menghampiri biyung nya yang masih berdiri termangu pula.

"Silahkan duduk dulu Ki Sanak." Masih dengan suara bergetar,wanita tua itu mempersilahkan Kyai Gringsing.
Kyai Gringsing menghela nafas perlahan dan tanpa berkata sepatahpun dia telah duduk dibangku kedai itu kembali.
Wanita tua itupun duduk pula tak jauh dari tempat Kyai Gringsing. Sementara Pusari menggelayut manja di lengan biyungnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sesungguhnya memang baru sekali ini dia melihat biyungnya terlihat sangat tegang.
Wanita tua itu menghela nafas dalam seolah ingin menghilangkan ketegangan di dadanya.
"Ki Sanak."Lanjut wanita itu."Apakah benar aku berhadapan dengan cucu dari orang yang bernama Windujati?"
Berdesir dada Kyai Gringsing. Diperhatikannya wajah wanita tua itu. Dalam gurat-gurat ketuanya, wanita itu memang tidak jauh beda dengan Pusari.
Semakin berdebar dada Kyai Gringsing,dihelanya nafas nya dalam-dalam. Namun itu tak juga meredakan gejolak di dadanya.
Wanita tua itupun menunduk dalam-dalam.
Tiba-tiba wanita itu perlahan terisak "Maafkan aku kakang" terbata wanita ituberkata.
Pusari yang tak juga mengerti apa yang terjadi,segera memeluk biyungnya.


(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 21 )

Wanita tua itu tertunduk semakin dalam sementara isaknya semakin terlihat.
Kyai Gringsing menghela nafas panjang,tapi tetap belum mampu berkata-kata. Perlahan dilepaskannya caping dari kepalanya. Pusari tertegun memandang wajah Kyai Gringsing. Wajah yang sangat teduh dengan sepasang mata yang memancar tajam dalam gurat ketuaan yang sangat tampak.
Perlahan wanita itu mengangkat wajahnya,tapi tidak berapa lama dia menunduk kembali. Dadanya bergemuruh oleh sebuah rasa penyesalan yang dalam. Sekilas nampak olehnya,wajah teduh itu sangat lah dikenalinya puluhan tahun yang lalu. Seorang laki-laki muda berilmu tinggi yang sangat dikaguminya ketika itu. Raden Surya Pamungkas.

Kyai Gringsing masih tak mampu berkata-kata. Ditariknya nafasnya dalam-dalam. Perlahan di ambilnya sesuatu dari kampil lusuhnya. Sebuah konde berwarna kuning keemasan. Diletakkannya konde itu di meja tepat dihadapan wanita itu.

"Bing Hwa, benda ini masih selalu menyertai aku ."Berdesis Kyai Gringsing hampir tak terdengar.

Kedai itu semakin sunyi hanya terdengar isak tertahan dari wanita itu.
Pusari yang tak juga bisa mengerti apa yang terjadi dan rasa ingin tahunya telah membuatnya meraih tusuk konde kuning itu. Diamatinya benda itu penuh keheranan.
"Biyung,bukankah biyungpun mempunyai tusuk konde seperti ini?" Bertanya Pusari menjadi tidak sabaran.
Wanita yang di panggil Bing Hwa itu mengangkat wajahnya perlahan. Dikumpulkannya semua keberanian pada dirinya. Ditatapnya laki-laki tua dihadapannya. Segumpal rasa haru terasa menyesakkan dadanya.

"Aku mohon maafkan kesalahanku kakang."

Kyai Gringsing menghela nafas perlahan. "Sudahlah Bing Hua,"berkata Kyai Gringsing kemudian."Tidak ada yang perlu dimaafkan. Keadaanlah yang memaksa kita harus berpisah waktu itu."
"Iya Kakang." Perlahan wanita yang dipanggil Bing Hua itu menjawab.

Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sudah tidak tampak lagi ketegangan di wajahnya.
"Maaf Bing Hua,lantas siapa gadis kecil ini?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
Wanita tua itu meraih Pusari kedalam pelukanya. Dibelainya kepala bocah itu penuh rasa sayang dan berkata."Dia cucu Kakak Huang Long,kakang. Sejak masih bayi aku yang mengasuhnya."
Kyai Gringsing menarik nafas dalam. Ada kelegaan luar biasa di dadanya.
" Jadi dia cucu Naga Kuning" Kyai Gringsing berujar pelan.

Wanita yang dipanggil Bing Hua itu tersenyum getir. Dia dapat meraba apa yang terlintas di benak Kyai Gringsing.
"Kakang, aku masih memegang ikrar yang telah kita ucapkan berdua. Jangan pernah ragukan aku tentang itu." Kembali Wanita itu tertunduk dalam.

"Akupun demikian Bing Hua"berkata Kyai Gringsing pelan penuh haru.

Tiba-tiba suasana hening kedai itu dipecahkan derai  tawa nakal dari Pusari.
"Ooh, jadi Kakek ini adalah orang yang pernah Biyung ceritakan padaku" berkata Pusari sembari berusaha melompat menjauh dari wanita itu.
Rupanya Pusari masih kalah cekataan, cepat tangan wanita itu meraih lengan Pusari,kemudian sebuah cubitan mendarat di paha Pusari.
Pusari pun terlonjak kesakitan.
"Sakit Biyung!" Seru Pusari manja dengan wajah cemberut lucu.
Kyai Gringsingpun tak kuasa untuk menahan senyum nya. Senyum kelegaan,senyum akan sebuah harapan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam.


(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 22 )

Kyai Gringsing memandang wanita di depanya. Di antara garis-garis ketuannya masih juga tampak di mata Kyai Gringsing sebuah pesona yang menggetarkan dada nya.

"Bing Hua,sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga Naga Kuning menghilang tanpa jejak sedikitpun?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.
Wanita yang dipanggil Bing Hua itu menghela nafas perlahan.
"Seperti Kakang ketahui diakhir pemerintahan Sultan Trenggana yang juga bernama Tung Ka Lo, terjadi perbutan kekuasaan." Mata wanita itu menerawang.
"Kakak Huang Long yang merupakan pengawal setia dari Pangeran Sekar telah ikut menanggung akibatnya."
Berkerenyit dahi Kyai Gringsing. "Apakah Huang Long pun diburu sepeninggal Pangeran Sekar Seda Lepen?"
"Benar Kakang." Wanita itu kembali menghela nafas.
Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti. Memang sebenarnyalah dia juga tahu apa yang terjadi waktu itu. Pemberontakan berbalas pemberontakan,penghianatan diantara saudara semua demi sebuah kekuasaan. Mungkin sudah menjadi garis takdir tanah Jawadwipa ini. Itulah mengapa,dia yang juga mempunyai jalur keturunan Brawijaya memilih tidak mau ikut terlarut dalam bermacam pertumpahan darah antar bangsa sendiri. Meskipun akhirnya diapun tidak mampu untuk menghindar dari pusaran kemelut di Bumi Mataram.
Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

"Kakang,"lanjut wanita itu."Karena kami tidak ingin terus menerus hidup dalam ketidaktenangan,akhirnya kami lebih memilih menyingkir."

Kembali Kyai Gringsing mengangguk-angguk mengerti.
"Bing Hua, seperti pesan terakhir yang kamu tinggalkan."Kyai gringsing menghela nafas kemudian melanjutkan," Kamu mengatakan pergi ke barat. Karena itulah aku pun berusaha mencari jejakmu sehingga sampailah aku di tlatah Bumi Mataran ini."
"Maafkan aku kakang," wanita itu menunduk. Lanjutnya," Sebenarnyalah aku tidak pergi ke barat. Melainkan ke timur. Kami menetap di pesisir timur tanah ini. Sampai akhirnya Kakak Huang Long pun menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki."
Wanita itu kembali menghela nafas perlahan.
Mengertilah Kyai Gringsing kenapa sekian lama dia mengembara di barat,dan tidak sekalipun menemukan jejak Naga Kuning dan Bing Hua, adik perempuan Naga Kuning.

"Jadi kalian pergi ke pesisir timur." Berujar Kyai Gringsing perlahan.

" Benar Kakang."
Sementara itu Pusari yang masih menggelayut manja di lengan wanita itu,berusaha mengerti apa yang di bicarakan.
"Bing Hua,lantas kenapa kamu sampai di tempat ini?" Bertanya Kyai Gringsing kemudian.

"Karena Pusari lah aku sampai di tempat ini kakang. Sebenarnyalah belum lama kami tinggal di Padukuhan ini." Menjawab wanita itu dengan sedikit memberi isyarat kepada Kyai Gringsing.
Dengan panggraitanya yang tajam dan sedikit isyarat dari Wanita itu,tahulah Kyai Gringsing apabila belum saatnya wanita itu menceritakan semuanya dikarenakan adanya Pusari.

Kyai Gringsing mengangguk-angguk.
"Pusari bukankah sudah aku katakan,memuliakan tamu adalah sebagian dari ajaran agamamu?" Suara wanita itu tiba-tiba meninggi. Dipandanginya Pusari.
Pusaripun kembali terlonjak terkejut.
"Yah Biyung,aku masih ingin mendengar cerita biyung," berkata Pusari dengan bibir cemberut. Tapi diapun mengerti maksud Biyungnya.
Baik lah biyung." Katanya kemudian.
"Kakek,"bertanya Pusari dengan binar mata penuh rasa hormat." Kakek mau minum apa?"

"Apa saja Ngger" jawab Kyai Gringsing singkat sambil tersenyum.
Bergegas Pusari menuju dapur kedai itu. Dia tidak ingin melewatkan cerita biyungnya. Dia ingin sekali mendengar biyungnya menceritakan kemana kedua orang tuanya pergi. Kalau memang masih hidup,betapa inginnya dia me$persembahkan baktinya,tetapi apabila sudah meninggal betapa inginnya dia memeluk pusara kedua orang yang sangat dirindukannya itu.


(Lanjutan)Api di Bukit Menoreh
(Tanah Leluhur 23 )

Tidak berselang lama setelah Pusari pergi ke dapur,maka Bing Hua melanjutkan penuturannya.
"Sebenarnyalah ceritanya sangat panjang Kakang. Tapi untuk singkatnya,aku telah mendapat kabar bahwa kedua orang tua Pusari berada di wilayah barat ini. " Bing Hua menghela nafasnya perlahan.
"Karenanya beberapa purnama yang lalu,sepeninggal Kakak Naga Kuning aku sengaja mengajak Pusari untuk pergi ke wilayah ini."
Berkerenyit dahi Kyai Gringsing.Kyai Gringsing pun menghela nafas.

"Jadi Huang Long sudah meninggal?"
ى
Berkerenyit dahi Pusari. "Dimana kakek tinggal?"
Tertegun Kyai Gringsing mendengar perkataan itu. Setelah sejenak terdiam,jawab Kyai Gringsing kemudian."Selama ini aku tinggal di lereng Gunung Merapi,Pusari."
"Wah,aku akan sangat senang berada di sana kek." Berseri-seri wajah Pusari mendengar jawaban Kyai Gringsing.
Kyai Gringsingpun tersenyum melihat wajah Pusari.

"Bing Hua"

"Panggil aku Humaira,kakang."Potong Bing Hua. "Bukankah pnggilan itu yang dulu telah kakang berikan untukku?"
Kembali berdebar Kyai Gringsing mendengar perktaan wanita itu.
"Baiklah Humaira, aku harus melanjutkan perjalanku. Dalam dua atau tiga hari ini aku akan kembali ke sini." Berkata Kyai Gringsing kemudian.
Kyai Gringsingpun segera mengambil kampil lusuhnya kemudian di sangkutkan di pundaknya.
Sesaat kemudian,Kyai Gringsingpun telah beranjak dari duduknya. Diikuti oleh wanita tua yang oleh Kyai Gringsing dipanggilnya Humaira itu.
"Berhati-hatilah Kakang. Aku akan menunggumu." Bergetar suara Nyai Humaira. Sesuatu yang sangat berat telah menindih dadanya.
Kyai Gringsingpun hanya bisa mengangguk. Didekatinya Pusari dan di usapnya kepala gadis kecil itu.
"Pusari,jaga biyungmu baik-baik ya."
Pusaripun mengangguk.
"Selamat jalan Kek." Lirih bergumam Pusari.

"Assalamu'alaikum" berkata Kyai Gringsing sebelum dilangkahkan kakinya.
"Wa'alaikum salam" hampir bersamaan Nyai Humaira dan Pusari menjawab.
Begitulah akhirnya Kyai Gringsingpun melangkah meninggalkan tempat itu. Tempat yang akan selalu menjadi catatan tersendiri di saat-saat senjanya. Tempat yang telah kembali mengembalikan harapan yang terpendam puluhan tahun. Hidup bersama dengan wanita yang sangat dicintainya.

--